25.9 C
Banda Aceh
BerandaSosokKisah Keluarga Yatim Penyintas Banjir Tamiang: Merindu Al-Qur'an Dan Rumah

Kisah Keluarga Yatim Penyintas Banjir Tamiang: Merindu Al-Qur’an Dan Rumah


JALANTENGAH I TAMIANG — Di bawah pepohonan yang tersisa di tengah padang lumpur banjir yang mulai mengeras, sepasang tenda darurat berdiri seadanya. Di sanalah sebuah keluarga yatim bertahan hidup, sebulan setelah banjir bandang melanda kawasan kampung Pantai Tinjau, Kecamatan Sekrak Aceh Tamiang dan menyapu bersih rumah serta seluruh harta benda yang mereka miliki.

Perempuan muda itu menimba air dari sumur yang masih bercampur lumpur untuk memandikan dua anaknya serta untuk berwudhu’. Senyumnya kerap mengembang saat ada orang singgah, namun sorot matanya menyimpan kelelahan panjang. Sejak suaminya meninggal beberapa hari sebelum bencana banjir menyapu kampungnya, ia harus berjuang sendirian termasuk saat menyelamatkan kedua bocahnya dari dahsyatnya arus banjir.

Usai bencana datang tanpa ampun, Al-Qur’an kesayangan yang jadi obat penenang batin turut lenyap. Tak ada lagi rumah yang bisa mereka pulangi. Yang tersisa hanyalah kenangan dan kerinduan akan tempat tinggal sederhana yang dulu menjadi pelindung dari panas dan hujan.

Banjir bandang yang terjadi sebulan lalu datang pada malam hari, kisahnya. Arus air bercampur lumpur, kayu, dan puing bangunan melaju deras dari hulu, menghantam permukiman warga. Rumah keluarga ini termasuk yang tak tersisa. Semua hanyut tanpa jejak.

“Yang penting kami selamat,” ucap sang Ibu lirih, berulang kali, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Sejak itu, kehidupan mereka berpindah ke tenda pengungsian di pinggir jalan. Tanpa penghasilan tetap dan tanpa kepala keluarga, mereka menggantungkan hidup dari uluran tangan para dermawan, pengendara motor, sopir truk, atau warga yang kebetulan melintas.

Anak sulungnya, Yola, yang masih usia sekolah kerap berdiri di dekat pagar mesjid pantai tinjau pembatas jalan, menatap orang-orang yang datang dan pergi. Sesekali ia menerima bingkisan makanan atau kebutuhan harian. Sang adik, yang masih balita, sambil memegang balon bantuan lebih sering digendong ibunya, seakan tak ingin lepas dari rasa aman yang kini rapuh.

Bantuan memang datang, namun belum cukup untuk menghapus kecemasan tentang masa depan. Kebutuhan makan sehari-hari, pakaian, hingga biaya sekolah anak masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Yang paling mereka rindukan tetap satu: rumah.

“Bukan harus bagus,” kata sang ibu pelan. “Asal bisa berteduh, dan anak-anak punya tempat tidur.” Ia mengaku belum mengetahui rencana pemerintah membangun hunian sementara.

Di tengah upaya pemulihan pascabencana yang masih berjalan, kisah keluarga ini menjadi potret kecil dari luka panjang yang ditinggalkan banjir bandang Tamiang maupun daerah lainnya di Sumatera. Bencana tidak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga mengguncang rasa aman dan kepastian hidup mereka yang sudah rentan sejak awal.

Sebulan berlalu, lumpur masih menjadi tantangan berat mereka. Bagi keluarga ini, banjir belum benar-benar pergi. Ia masih tinggal dalam tenda darurat, ketergantungan pada kebaikan orang lain, dan kerinduan yang terus menunggu jawaban: kapan mereka bisa pulang meski ke rumah yang harus dibangun kembali dari nol. (*)

Sponsor

explore more