
JALANTENGAH I ACEH UTARA – Delapan bulan berlalu sejak banjir bandang menerjang Gampong Lhok Iboh, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara. Luka fisik perlahan mulai pulih, rumah-rumah mulai dibersihkan, namun beban batin yang dipikul perempuan dan anak-anak masih menyisakan cerita yang tak mudah dihapus.
Minggu (19/7/2026), secercah harapan hadir melalui kegiatan pemulihan psikososial berbasis komunitas bertajuk “Meunasah”, yang difasilitasi oleh mahasiswa psikologi Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Lindawati, yang juga relawan psikososial Tandaseru Indonesia.
Selain Lindawati, kegiatan ini juga mendapat support sejumlah mahasiswa psikologi UICI Jakarta, diantaranya Dwi Putra, Antonius dan Gatot, serta dukungan penuh dari lembaga psikologi dan training konsultan Tandaseru Indonesia, Saidina Foundation dan juga masyarakat setempat.

Bertempat di meunasah gampong Lhok Iboh, kecamatan Baktya Barat, Aceh Utara, puluhan anak dan ibu mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk membantu mereka mengekspresikan perasaan, membangun kembali rasa aman, serta memperkuat ikatan sosial yang sempat terguncang akibat bencana banjir bandang tujuh bulan lalu.
Suasana berlangsung hangat. Anak-anak yang awalnya tampak malu perlahan mulai berani bercerita, tertawa, dan mengikuti permainan edukatif. Sementara para ibu saling berbagi pengalaman tentang masa-masa sulit yang mereka lalui sejak banjir menghantam kampung mereka selain menjalani sejumlah sesi terapi.
Lindawati mengatakan, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan bantuan logistik maupun perbaikan infrastruktur. Menurutnya, kesehatan mental penyintas, khususnya perempuan dan anak, juga harus menjadi perhatian.

“Trauma sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya bisa bertahan lama. Melalui ruang aman ini kami ingin membantu mereka mengenali dan mengekspresikan emosinya, sekaligus menguatkan kembali dukungan antarwarga agar proses pemulihan berjalan lebih utuh,” ujarnya.
Dalam sesi berbagi cerita, sejumlah ibu mengaku masih sering dihantui rasa cemas ketika hujan turun deras. Sebagian anak bahkan masih mudah terkejut ketika mendengar suara hujan atau aliran air yang deras.
Di tengah kegiatan, rasa haru juga disampaikan Keuchik Gampong Lhok Iboh, Maridawati. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menjadi bantuan psikologis pertama yang diterima warganya sejak banjir bandang melanda.
“Kegiatan ini sangat penting bagi masyarakat kami. Setelah tujuh bulan pasca banjir bandang, baru hari ini kami mendapat bantuan psikologis seperti ini. Kami bersyukur akhirnya ada yang hadir mendengarkan, menguatkan, dan mendampingi ibu-ibu serta anak-anak kami,” tutur Mak Ah, panggilan akrab Maridawati.
Maridawati berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut agar proses pemulihan masyarakat tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.
Program “Meunasah” sendiri mengusung konsep pemulihan psikososial berbasis komunitas dengan menjadikan meunasah sebagai ruang aman bagi perempuan dan anak. Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat diajak untuk saling menguatkan, belajar bersama, dan membangun kembali ketahanan sosial setelah bencana.
Bagi warga Lhok Iboh, kehadiran para relawan hari ini bukan sekadar menjalankan sebuah program. Lebih dari itu, mereka menghadirkan ruang untuk didengar, dipahami, dan diyakinkan bahwa rasa takut yang selama ini dipendam tidak harus dihadapi sendirian.
Di tengah perjalanan panjang menuju pemulihan, senyum anak-anak yang kembali merekah di meunasah menjadi tanda bahwa harapan selalu menemukan jalannya ketika kepedulian hadir menyapa. (*)













