JALANTENGAH I LHOKSEUMAWE – Di sebuah rumah kayu panggung yang mulai lapuk dimakan usia di gampong Meunasah Alue, kecamatan Muara Dua Lhokseumawe, Marwati, seorang ibu janda lanjut usia menjalani hari-harinya dengan hati penuh kecemasan. Bukan memikirkan dirinya sendiri, melainkan Murwadi (42), anak lelakinya yang diduga mengalami gangguan mental sejak kecil.
Kepada relawan Laziskahmi dan jurnalis jalantengah.net yang mendatangi rumahnya, Senin (25/5/2026), Marwati menceritakan kisah pilu itu bermula ketika Murwadi mengalami step saat usianya belum genap tiga bulan. Sejak saat itu tumbuh kembangnya berbeda dari anak-anak lain.
Ketika beranjak dewasa, Murwadi sering pergi tanpa arah dan tidak mengetahui jalan pulang ke rumah. Berkali-kali sang ibu harus mencari anaknya ke berbagai tempat dengan perasaan panik dan takut. Tak jarang ia berjalan jauh hanya demi bisa menemukan Murwadi dan membawanya pulang kembali.

Marwati sebenarnya sudah berusaha mencari pengobatan.Menurutnya, Murwadi anaknya pernah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Namun hingga kini belum ada perubahan berarti pada kondisinya.
Seiring bertambahnya usia, tenaga Marwati pun semakin melemah. Ia tak lagi sanggup menjaga dan mencari Murwadi seorang diri ketika anaknya pergi meninggalkan rumah. Dalam kondisi serba terbatas itulah, dengan hati yang hancur, ia mengambil keputusan yang paling berat dalam hidupnya: merantai anaknya sendiri agar tetap berada di rumah bersamanya.
Pemandangan Murwadi duduk dengan rantai di tubuhnya memang menyayat hati. Namun di balik itu semua, tersimpan kasih sayang seorang ibu yang tidak ingin kehilangan anaknya. Bukan kebencian, bukan pula kekejaman. Melainkan ketakutan seorang ibu renta yang sudah tak kuat lagi berlari mencari anaknya entah ke mana.
Kondisi rumah panggung mereka pun jauh dari kata layak. Tidak ada ruang aman ataupun kamar khusus untuk Murwadi bisa menjalani hari-harinya dengan lebih manusiawi.
Harapan Marwati sebenarnya sangat sederhana.
Ia hanya ingin ada satu bilik atau gubuk khusus persis di sebelah rumah gubuknya yang aman untuk Murwadi, agar anaknya tidak perlu lagi dirantai dan tetap bisa berada dekat dengannya.
“Kalau ada yang mau bantu saya cuma berharap ada gubuk kayu khusus beserta toilet untuk anak saya, biar dia tinggal disitu, sehingga tidak perlu dirantai lagi”, minta Marwati dengan suara lirih sambil menyeka air matanya.
Bagi sebagian orang, sebuah kamar kayu mungkin hal biasa. Namun bagi Marwati dan Murwadi, itu adalah harapan, ketenangan, dan secercah cahaya untuk menjalani hidup dengan lebih layak dan manusiawi.
Kisah ini menjadi pengingat kita semua, bahwa di tengah kemiskinan dan keterbatasan, cinta seorang ibu tetap menjadi tempat pulang paling tulus bagi anaknya, bagaimanapun kondisinya.
Sedekah atau donasi bebaskan Murwadi dari rantai dapat disalurkan ke rekening lembaga filantropi Laziskahmi, BSI 7164787774 atas nama Laziskahmi. Konfirmasi donasi: 085260880046, 085260002223. (*)