“Orang yang hatinya sakit cenderung menyalahkan orang lain untuk menyelamatkan kegelisahan batinnya.” – Lailan F. Saidina –
Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, tetapi terasa dalam setiap kata yang keluar dari lisan. Ada hati yang letih, namun tak tahu bagaimana cara mengobatinya. Bagi orang yang hatinya sakit, maka yang paling mudah dilakukan adalah mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain agar dirinya terasa lebih ringan.
Padahal, menyalahkan bukanlah menyembuhkan. Itu hanya memindahkan beban sesaat. Dalam tradisi spiritual, hati yang sakit bukanlah hati yang sering marah, tetapi hati yang enggan bercermin. Ia menolak melihat bahwa sumber kegelisahan sering kali bukan di luar, melainkan di dalam. Memang ego lebih suka menunjuk keluar daripada merunduk ke dalam.
Hadist populer Bukari Muslim tentang hubungan hati dengan baik buruknya jasad bukanlah sekadar peringatan, melainkan undangan untuk pulang, pulang kepada hati. Karena ketika hati rusak oleh iri, dendam, dan prasangka, dunia pun tampak penuh kesalahan orang lain. Padahal yang perlu dibersihkan adalah cermin jiwa kita sendiri.
Karenanya Jalaluddin Rumi, seorang Sufi kesohor pernah berkata, “Kemarin aku cerdik, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijak, maka aku mengubah diriku.”
Selama kita merasa paling benar, kita akan sibuk memperbaiki orang lain. Namun ketika kebijaksanaan menyentuh hati, kita sadar bahwa perubahan terbesar dimulai dari diri sendiri. Orang yang hatinya damai tidak mudah menyalahkan. Ia berani mengakui, “ada yang belum selesai dalam diriku”, “sepertinya aku yang harus belajar”. Dan dari keberanian itu ketenangan lahir.

Menyalahkan adalah bahasa luka. Sebaliknya memperbaiki diri adalah bahasa jiwa. Jika hari ini kita merasa mudah tersinggung, cepat menghakimi, atau gemar mencari kesalahan orang lain, mungkin itu bukan tentang mereka, boleh jadi itu tanda bahwa hati kita sedang meminta perhatian.
Jika itu yang terjadi, rawatlah hati dengan dzikir, dengan muhasabah, dengan doa yang jujur di sepertiga malam. Karena hati yang sembuh tidak lagi sibuk mencari siapa yang salah, melainkan sibuk memperbaiki apa yang bisa ia perbaiki. Kedamaian bukanlah ketika semua orang berubah sesuai keinginan kita, melainkan ketika hati kita berserah dan bening menerima takdir-Nya.
Guru saya Ayah Sop Jeunieb (Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab), dalam banyak majelisnya sering menasihati bahwa hati itu ibarat wadah. Jika diisi dendam, maka yang keluar adalah kebencian. Jika diisi zikir, maka yang memancar adalah ketenangan.
Beliau sering mengingatkan agar manusia menjaga hati dari hasad dan takabbur, karena dua penyakit itu membuat amal terasa besar di mata sendiri, namun kecil di sisi Allah.
“Bersihkan hatimu sebelum engkau sibuk membersihkan kesalahan orang lain”, sebut Ayah Sop di banyak kesempatan saya bertemu beliau semasa hidupnya.
Orang yang hatinya sehat tidak mudah menyalahkan atau mencari kambinghitam. Ia lebih cepat bertanya, “Apa yang Allah ingin aku pelajari dari peristiwa ini?”, daripada kita sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab.
Menyalahkan orang lain mungkin membuat ego lega sesaat, tetapi hanya kesadaran introspeksilah yang membuat jiwa benar-benar tenang. Maka jika hari ini hati terasa sempit, jangan buru-buru menuding. Duduklah sejenak, periksa batinmu, perbanyak istighfar. Bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan keadaan di luar sana, melainkan ruang sunyi di dalam dada (diri) kita.
Hati yang bersih melahirkan lisan yang lembut. Hati yang tenang melahirkan sikap yang teduh.
Dan dari hati yang teduh itulah, lahir kedamaian yang tidak mudah diguncang oleh salah dan benar manusia di sekitar kita. Wallahu ‘aklam bish-shawab. [ ]
I Lailan F. Saidina, adalah founder Tandaseru Indonesia, Trainer, Coach dan Praktisi Islamic Hipnoterapi. I www.tandaseru.co.id










