27.8 C
Banda Aceh
BerandaKolomRefleksi Psikologi Sosial: Saat Papan Hinaan Gagal Mengubah Perilaku

Refleksi Psikologi Sosial: Saat Papan Hinaan Gagal Mengubah Perilaku

Oleh : Lailan F. Saidina *

Tulisan reflektif ini dibuat untuk merespon postingan video pendek seorang teman pagi ini, Jum’at (29/5/2026) di salah satu group whatapps, tentang kegelisahannya terhadap belum adanya kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, meskipun sudah sering di ingatkan dengan kata-kata kasar dan kalimat hinaan.

Tulisan pada papan larangan berbunyi: “wahai binatang yang berkaki 2, disini bukan tempat sampah.” Sebuah kalimat penuh kemarahan, sindiran, bahkan penghinaan. Namun ironisnya, sampah tetap berserakan tepat di bawah papan itu hingga radius beberapa meter seperti yang terlihat dalam video pendek tersebut.

Pemandangan ini bukanlah hal baru di Kota Lhokseumawe. Banyak pemilik lahan kosong di pinggir jalan lintasan harus berjuang keras agar lahannya tak jadi sasaran TPA liar dari kantong-kantong sampah warga yang melintas. Salah satu cara yang kerap dilakukan pemilik atau pengelola lahan kosong selama ini adalah dengan membuat papan larangan buang sampah dengan pesan-pesan kasar dan penuh hinaan.

Fenomena ini bukan sekadar soal kurangnya aturan atau minimnya fasilitas. Ini adalah gambaran tentang bagaimana manusia bekerja secara psikologis. Perilaku tidak selalu berubah hanya karena dimarahi. Buktinya, perilaku buang sampah sembarangan sama sekali tidak berkurang seiring banyaknya kalimat-kalimat berbau “amis” di papan larangan yang di pancangkan.

Pertanyaannya, mengapa kalimat kalimat “amis” dan “hinaan” itu tidak mampu mengubah perilaku sosial? Apa yang salah dengan kalimat itu? Dalam perspektif Neuro-Linguistic Programming (NLP), bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga pemicu emosi dan pembentuk makna dalam pikiran bawah sadar kita.

Ketika seseorang membaca kata-kata kasar, seperti “binatang berkaki dua”, otak cenderung memprosesnya sebagai serangan terhadap harga diri. Respons alami manusia ketika diserang adalah defensif, menolak, atau bahkan melawan secara diam-diam. Akibatnya, pesan utama tentang menjaga kebersihan justru tenggelam oleh emosi negatif yang muncul.

Bukankah ini yang sering terjadi dalam budaya komunikasi kita selama ini? Kita berharap perubahan lahir dari rasa malu atau takut dimaki. Padahal secara psikologis, dalam pendekatan NLP, perilaku manusia jauh lebih efektif berubah melalui asosiasi positif dibanding penghinaan. Otak manusia, sejahat apapun dia akan lebih mudah bergerak ketika merasa dihargai, dilibatkan, dan memiliki identitas yang baik.

Orang yang membuang sampah sembarangan sebenarnya tidak selalu karena mereka tidak tahu. Banyak yang sadar bahwa itu salah. Tetapi kesadaran moral sering kali kalah oleh kebiasaan, lingkungan sosial, dan minimnya rasa memiliki terhadap ruang publik.

Dalam dunia coaching, ini disebut sebagai state management. Seseorang bertindak sesuai dengan keadaan mental dan lingkungan yang mengelilinginya. Jika lingkungan terlihat kotor, otak menganggap membuang satu plastik sampah lagi bukan masalah besar. Sebaliknya, lingkungan bersih menciptakan tekanan sosial positif untuk ikut menjaga.

Aceh sesungguhnya memiliki modal sosial dan spiritual yang sangat kuat. Masyarakatnya religius, menjunjung adat, dan menghormati nilai kebersamaan. Karena itu, pendekatan perubahan perilaku seharusnya tidak dibangun dengan makian, tetapi dengan identitas kolektif yang membanggakan. Orang akan lebih tersentuh jika diajak merasa: “warga Aceh itu bermartabat, bersih, dan menjaga alam sebagai amanah.”

Dalam NLP dikenal konsep reframing, yaitu mengubah cara seseorang memandang suatu tindakan. Selama ini membuang sampah sering hanya dipahami sebagai urusan kebersihan. Padahal bisa dibingkai ulang sebagai bentuk harga diri, ibadah, dan cinta kampung halaman. Ketika seseorang merasa menjaga lingkungan adalah bagian dari identitas dirinya, biasanya perilaku itu lebih mudah bertahan.

Perubahan yang kuat lahir dari kesadaran internal, bukan tekanan eksternal. Orang mungkin patuh ketika diawasi, tetapi akan kembali melanggar ketika tidak ada yang melihat. Karena itu, membangun budaya bersih perlu dimulai dari rasa memiliki dan contoh nyata.

Anak-anak yang tumbuh melihat orang tua membuang sampah pada tempatnya akan menganggap itu normal. Sebaliknya, jika kita orang dewasa sendiri abai, papan peringatan sekeras apa pun hanya menjadi dekorasi lahan-lahan kosong dan terlantar di tepi jalan.

Kita juga perlu jujur bahwa sebagian masyarakat sudah lelah dengan gaya komunikasi yang selalu menghukum. Spanduk ancaman, kata-kata kasar, dan makian mungkin viral sesaat, tetapi jarang menyentuh kesadaran terdalam manusia. Mengubah perilaku sosial membutuhkan konsistensi, edukasi emosional, fasilitas memadai, dan teladan sosial.

Sudah saatnya cara kita berkomunikasi di ruang publik diubah. Bukan lagi: “Wahai binatang berkaki dua…”, tetapi “Lingkungan bersih adalah cermin kemuliaan kita”. “Atas nama Aceh yang indah, mari kita jaga kebersihan bersama”. “Buang sampah pada tempatnya adalah sedekah untuk bumi”. “Terima kasih tidak membuang sampah disini, semoga Allah meridhai”. Dan seterusnya.

Kalimat seperti ini bekerja bukan dengan menghina, tetapi dengan membangkitkan identitas positif. Manusia, pada dasarnya, lebih mudah berubah ketika merasa dihormati daripada direndahkan. Kesadaran tidak tumbuh dari kemarahan semata, tapi dari rasa memiliki, keteladanan, dan keyakinan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga martabat dan harga diri kita sendiri. Berani coba ?  []

* Penulis pendiri Tandaseru Indonesia, Awareness Trainer, dan NLP Practitioner.

Sponsor

explore more