JALANTENGAH I CUNDA — Sebuah tugu bersejarah di kawasan pasar Cunda kembali menyita perhatian warga. Tugu yang menandai pertempuran antara T.K.R./rakyat melawan tentara Jepang pada 24 November 1945 (Tjunda) itu dinilai minim sosialisasi, edukasi dan informasi pendukung, sehingga nilai sejarahnya belum tersampaikan secara utuh kepada generasi muda.
Berdasarkan pantauan jalantengah di lokasi, tugu berwarna dominan putih dengan ornamen abu-abu berdiri sederhana dengan dua prasasti utama yang memuat keterangan peristiwa perlawanan rakyat terhadap tentara Jepang.
Namun, tidak ditemukan papan informasi tambahan, penjelasan kronologi yang mudah dipahami, maupun penunjuk sejarah yang dapat membantu pengunjung memahami konteks peristiwa secara lebih mendalam.

Warga Cunda, Zainal Abidin, menyayangkan kondisi tersebut. Ia menilai tugu yang harusnya memiliki nilai historis tinggi, tetapi belum dikelola sebagai sarana edukasi publik.
“Ini bukan sekadar tugu. Ini bukti nyata perjuangan rakyat Cunda melawan penjajahan. Sayangnya, tidak ada penjelasan yang memadai. Anak-anak yang datang ke sini belum tentu paham apa yang sebenarnya terjadi pada 24 November 1945,” ujar Zainal saat ditemui di lokasi beberapa hari lalu.
Menurut Zainal, pemerintah daerah dan pihak terkait perlu menambah materi edukatif seperti papan narasi sejarah, kode QR berisi arsip dan dokumentasi, serta perawatan rutin agar tugu tetap terjaga. Ia juga berharap sekolah-sekolah dapat menjadikan situs ini sebagai bagian dari pembelajaran sejarah lokal.
“Kalau dikelola dengan baik, tugu ini bisa jadi ruang belajar terbuka. Sejarah perjuangan rakyat jangan sampai hanya jadi tulisan di batu, apalagi hanya sebatas bangunan fisik bukti serapan anggaran, tapi dipahami sebagai warisan nilai sejarah,” tambahnya.
Menariknya, beberapa warga yang tinggal di sekitar tugu saat ditanyakan perihal keberadaan tugu tersebut mengatakan tidak mengetahui itu sebenarnya bangunan apa.
Tugu peringatan ini menjadi saksi bisu keberanian rakyat Cunda dalam masa transisi awal kemerdekaan. Warga berharap, perhatian serius terhadap edukasi, sosialisasi dan pelestarian situs sejarah dapat menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menghargai perjuangan para pendahulu. (*)










