25.9 C
Banda Aceh
BerandaEdukasiMencari Harapan Dan Ruang Aman Di Antara Puing Sisa Banjir

Mencari Harapan Dan Ruang Aman Di Antara Puing Sisa Banjir

JALANTENGAH I KUALA CANGKOI — Di hamparan lumpur yang belum mengering, seorang anak berkaus biru tengah berlutut pelan. Di tangannya, sebuah piring logam yang biasa dipakai makan kini menjadi alat sederhana untuk mencari ikan, sekaligus menjadi media bermainnya siang itu.

Di sekelilingnya, puing-puing rumah roboh, papan patah, batu bata berserakan, pohon dan batang kayu yang terseret arus menjadi saksi bisu betapa derasnya banjir bandang dan longsor yang menghantam Gampong Kuala Cangkoi beberapa waktu lalu.

Rabu 26 November 2025, muara sungai kecil yang biasanya jinak berubah ganas hingga membentuk muara baru. Air bercampur lumpur meluap, menyeret apa saja yang dilewatinya. Belasan rumah hancur berkeping-keping disapu banjir, puluhan lainnya rusak berat. Bagi warga, hari itu bukan sekadar kehilangan tempat tinggal, melainkan juga kenangan, fasilitas mencari nafkah, dan rasa aman.

Agam (bukan nama asli:red) salah satu anak penyintas terlihat asik bermain sendirian seolah mencoba bertahan. Mencari ikan di genangan sisa lumpur banjir bukan hanya permainan, tetapi cara sederhana membantu keluarga di tengah keterbatasan. Senyap ia menyusuri alur lumpur diantara puing puing, sesekali menunduk, berharap ada kehidupan kecil yang tersisa di antara kehancuran.

Di sudut lain gampong, tenda-tenda darurat berwarna putih dan orange berdiri rapuh. Warga masih mengungsi, berdesakan dengan kebutuhan yang serba terbatas. Malam hari dingin, siang hari panas menyengat, dan hujan menembus tenda. Namun di tengah kondisi itu, gotong royong tetap menyala, warga saling berbagi makanan yang didapat dari bantuan dermawan, pakaian, dan cerita untuk menguatkan satu sama lain.

Meski banjir bandang dan longsor telah pergi, tetapi luka yang ditinggalkan masih terasa. Puing puing menumpuk di halaman dan bekas ruang tamu. Meski demikian, di antara reruntuhan itu, kehidupan perlahan mencari jalannya. Seperti anak kecil dengan piring logam di tangannya, seolah ia ingin mengajarkan bahwa harapan bisa tumbuh di tempat paling tak terduga.

Tak jauh dari anak ini berlutut dan larut dalam irama alam sambil mencari ikan, dibawah tenda besar warna orange, ratusan anak dan remaja penyintas lainnya tampak seru sambil berbagi cerita, mengaji, bermain bersama kakak kakak relawan psikososial Tandaseru Indonesia.

Sementara itu warga masih berharap uluran tangan terus mengalir, baik bantuan logistik, hunian sementara yang layak, serta langkah nyata pemulihan. Pascabencana, membangun kembali bukan hanya soal rumah, melainkan mengembalikan masa depan, terutama bagi anak-anak yang memimpikan hari esok yang lebih aman.

I Penulis: F. Saidina

Sponsor

explore more