JALANTENGAH I BANDA ACEH – Di enam ruang terpisah Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, sejak Kamis (17/9/2026), puluhan orang duduk mengelilingi meja-meja bundar. Sebagian menyimak layar presentasi narasumber, sebagian lainnya berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil.
Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, ada akademisi, guru, tenaga kependidikan, profesional, hingga unsur yang memiliki perhatian dan relevansinya pada penanggulangan bencana.
Kurang dari 200 peserta berkumpul dalam kegiatan Training of Trainer (TOT) Calon Fasilitator Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Pascabencana dan Calon Fasilitator Kesiapsiagaan Bencana bagi Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung 17–20 September 2026 itu diselenggarakan oleh Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Aceh sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas dan ketahanan ekosistem pendidikan dalam menghadapi risiko bencana.

Di balik istilah Training of Trainer yang terdengar formal, ada persoalan manusia yang menjadi perhatian utama: apa yang terjadi pada guru dan peserta didik ketika bencana datang?
Gempa, banjir, longsor, tsunami, maupun bencana lainnya tidak hanya dapat merusak bangunan sekolah dan fasilitas pendidikan. Dampaknya juga dapat meninggalkan tekanan psikologis yang membuat anak sulit belajar, guru kesulitan mendampingi peserta didik, dan proses pendidikan membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Karena itu, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali ruang kelas. Ada manusia yang juga harus dipulihkan. Menyiapkan orang-orang yang akan berada di garis depan.
TOT ini dirancang untuk menyiapkan tenaga fasilitator yang nantinya dapat menjadi penggerak dan ujung tombak diseminasi pengetahuan kepada guru serta tenaga kependidikan di berbagai kabupaten/kota di Aceh, terutama yang terdampak bencana .
Para peserta tidak hanya dibekali perspektif mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana, tetapi juga pendekatan dukungan psikososial pascabencana.
Harapannya, pengetahuan yang diperoleh di ruang pelatihan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir pada 20 September. Para calon fasilitator akan membawa pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan tersebut kembali ke lingkungan pendidikan masing-masing di daerahnya.
Dari satu ruang pelatihan, pengetahuan itu diharapkan bergerak lebih jauh ke sekolah, ruang guru, kelas, dan akhirnya kepada anak-anak yang menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan.
Bencana tidak hanya soal kerusakan fisik
Aceh memiliki pengalaman panjang berhadapan dengan bencana. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar mengetahui jalur evakuasi atau menyiapkan perlengkapan darurat.
Kesiapsiagaan juga berkaitan dengan kemampuan manusia untuk tetap tenang, saling mendukung, mengambil keputusan dan memahami kebutuhan kelompok rentan ketika situasi darurat terjadi.
Dalam konteks sekolah, guru memiliki posisi penting. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga orang dewasa yang berada dekat dengan peserta didik ketika kondisi krisis terjadi.
Di sinilah peran fasilitator menjadi penting.
Mereka diharapkan mampu membantu memperkuat pemahaman guru dan tenaga kependidikan mengenai kesiapsiagaan bencana sekaligus dukungan psikososial ketika komunitas sekolah menghadapi situasi pascabencana.
Menurut Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Aceh, Muhammadi, disamping momen silaturrahmi para fasilitator BGTK, program ini mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni kesiapsiagaan sebelum bencana dan pemulihan setelah bencana. Keduanya saling berkaitan.
“Sekolah yang tangguh bukan hanya sekolah yang mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga mampu membantu warga sekolah bangkit dan melanjutkan proses pendidikan setelahnya”, ungkap Muhammadi.
Meski hadir dengan latar belakang dan pengalaman masing-masing, dalam ruang pelatihan para peserta dipertemukan oleh satu kebutuhan yang sama, yakni membangun pendidikan Aceh yang lebih siap menghadapi bencana dan lebih kuat dalam memulihkan manusia setelah bencana. (*)