Home Sosok Ahmad Rajaies Syamtari, Diantara Foto Abu Khalil Syakbi dan Pelukan LAZISKAHMI

Ahmad Rajaies Syamtari, Diantara Foto Abu Khalil Syakbi dan Pelukan LAZISKAHMI

0
Raja, putra dari almarhum alumni HMI Khalil Syakbi, salah satu yatim asuh Laziskahmi tersenyum bahagia usai menerima beasiswa peluk yatim insan cita. (Foto: jalantengah)

Di ruang tamu rumah permanen, ada satu foto yang selalu menarik perhatian Raja, panggilan Ahmad Rajaies Syamtari (11 tahun). Foto itu tergantung rapi di dinding rumah, berdampingan dengan atribut hijau-hitam kebanggaan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setiap hari, sejak masih kecil, Raja menatap wajah dalam bingkai itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

“Ini Abu,” begitu Ibu dan keluarganya mengenalkan sosok dalam bingkai foto tersebut.

Raja memanggilnya Abu, sebutan penuh kasih untuk ayah. Namun, berbeda dengan anak-anak lain yang mengenal ayah lewat pelukan, nasihat, atau canda tawa, Raja mengenal ayahnya hanya melalui sebuah foto lengkap dengan peci hijau hitam dan gordon atribut organisasi HMI.

Khalil Syakbi, ayah Raja telah wafat bahkan sebelum putranya ini lahir ke dunia. Raja menjadi yatim sejak masih berada dalam kandungan ibunya. Tak pernah sekalipun ia merasakan genggaman tangan sang ayah. Tak pernah mendengar langsung suara “neuk” dari mulut sang ayah sebagai panggilan khas tanda kasih sayang umumnya orangtua di Aceh.

Hingga usianya kini, Raja hanya bisa mendengar cerita, cerita tentang seorang ayah yang dirindui setiap anak seusianya. Cerita tentang seorang aktivis yang mengabdikan dirinya untuk umat dan bangsa. Cerita tentang Khalil Syakbi, mantan Ketua Umum HMI Cabang Lhokseumawe, yang dikenal sebagai pribadi hangat, humoris, tegas, berdaya juang tinggi dan peduli terhadap sesama.

Dari foto yang tergantung di dinding rumah itulah Raja kecil mulai merangkai sosok ayah dalam imajinasinya. Setiap kali memandang wajah dalam bingkai itu, ia mencoba membayangkan bagaimana senyum ayahnya, bagaimana suara ayahnya, dan bagaimana rasanya berjalan berdampingan dengan seorang ayah yang dikenal banyak orang.

Meski tak pernah bertemu, Raja tumbuh dengan satu keyakinan bahwa ayahnya adalah orang baik. Waktu berlalu. Raja beranjak besar. Kehidupan sebagai anak yatim tentu tidak selalu mudah.

Laziskahmi Membawa Pelukan Abu

Namun Allah menghadirkan banyak tangan yang menguatkan langkahnya. Salah satu di antaranya datang melalui Laziskahmi. Melalui Program Peluk Yatim Insan Cita, Raja menjadi satu diantara 24 anak yatim asuh Laziskahmi. Program itu bukan hanya menghadirkan bantuan untuk kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, program peluk yatim insan cita menghadirkan keluarga baru bagi Raja maupun anak-anak yatim alumni HMI lainnya.

Di setiap kegiatan, Raja bertemu dengan kakak-kakak HMI. Ia melihat warna hijau yang selama ini hanya dikenalnya dari cerita tentang ayahnya. Ia mendengar istilah-istilah perjuangan yang dahulu begitu lekat dengan kehidupan Khalil Syakbi Abunya. Perlahan, hubungan Raja dengan HMI tidak lagi sekadar cerita warisan keluarga.
Ia mulai merasakan kedekatan itu secara nyata.

Di acara penyaluran beasiswa peluk yatim insan cita, Ahad (14/6/2026), Raja menemukan banyak wajah yang mengenal ayahnya. Sebagian bercerita tentang kepemimpinan Khalil Syakbi ketika memimpin HMI Cabang Lhokseumawe semasa hidupnya. Sebagian lagi mengenang ketulusan dan semangat pengabdiannya.

Setiap cerita menjadi kepingan puzzle yang melengkapi sosok ayah yang selama ini hanya hidup dalam sebuah foto. Raja mendengarkan dengan mata berbinar. Baginya, setiap kenangan yang dibagikan adalah cara untuk lebih dekat dengan Abu yang tak pernah sempat dipeluknya.

Kini, ketika ia datang ke kegiatan Laziskahmi dan bertemu alumni HMI sahabat seperjuangan ayahnya, Raja tidak lagi merasa asing. Ia merasa berada di lingkungan yang memiliki jejak ayahnya. Lingkungan yang pernah menjadi ruang tumbuh dan berjuang Abu Khalil Syakbi.

Takdir memang tidak memberinya kesempatan mengenal ayah secara langsung. Namun melalui Laziskahmi dan keluarga besar HMI dan KAHMI, Raja menemukan jalan lain untuk mengenal sosok Abu. Foto di dinding rumah memang tetap diam.
Tetapi melalui orang-orang yang meneruskan nilai perjuangan dan kepedulian, sosok Khalil Syakbi seakan terus hidup, menyapa putranya dari waktu ke waktu.

Dan setiap kali Raja menatap foto Abu yang tergantung di rumah, ia tidak lagi hanya melihat sebuah gambar. Ia melihat warisan cinta, keteladanan, dan perjuangan yang terus mengalir dalam hidupnya.

Meski tak pernah merasakan pelukan cinta dari Abu, bagi Raja, pelukan itu sejak enam tahun lalu telah menjelma melalui Program Peluk Yatim Insan Cita Laziskahmi, sebuah pelukan yang membuat Raja merasa bahwa dirinya tidak pernah berjalan sendirian. []

I Penulis: F. Saidina

Exit mobile version