Home Sosok Kisah Abon Isa Berjuang Lolos Dari Banjir Dahsyat, Bobol Atap Selamatkan Anak...

Kisah Abon Isa Berjuang Lolos Dari Banjir Dahsyat, Bobol Atap Selamatkan Anak Istri

0
Abon Isa (baju putih), pimpinan dayah hidayatul huda, gampong rumoh rayek kec. Langkahan, Aceh Utara saat menceritakan kisahnya kepada relawan yang juga inisiator Laziskahmi, Lailan F. Saidina beberapa waktu lalu. (Foto: jalantengah)

JALANTENGAH I LANGKAHAN – Di tengah hamparan kebun sawit yang kini sunyi dan retak-retak karena lumpur yang mengeras, Abon Isa duduk bersama warga dan relawan Laziskahmi, mencoba menata ulang ingatan tentang hari paling mencekam dalam hidupnya. Tak ada lagi deru air bah seperti beberapa bulan lalu, namun jejak bencana masih jelas terlihat di setiap sudut.

Abon Isa, pimpinan Dayah Hidayatul Huda di Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, menjadi salah satu saksi hidup ganasnya banjir yang datang tanpa ampun. Air naik cepat, mencapai ketinggian sekitar empat meter, cukup untuk menenggelamkan rumah dan memaksa siapa pun mencari cara bertahan hidup dalam hitungan detik.

Saat air terus meninggi, satu-satunya jalan selamat adalah ke atas. Dengan sisa tenaga dan keberanian, Abon Isa membobol atap rumahnya sendiri yang selama ini dijadikan rumah tinggal dewan guru dayah miliknya. Dari situlah ia menyelamatkan diri, anak serta istrinya, sambil menunggu pertolongan di tengah arus banjir yang tak bersahabat.

Rumah tempat Abon Isa dan keluarganya menyelamatkan diri dengan membobol atap, setelah ketinggian air mencapai loteng rumah di gampong rumoh rayeuk, Langkahan. (Foto: jalantengah)

“Tidak ada pilihan lain. Kalau tidak naik ke atas, mungkin saya dan anak istri tidak ada di sini sekarang,” kisahnya lirih.

Evakuasi akhirnya datang, namun tidak mudah. Ia bersama warga lain harus diangkut menggunakan perahu kecil sederhana, menembus arus dan puing-puing yang terbawa banjir. Di tengah situasi kacau itu, keselamatan menjadi satu-satunya harapan.

Sadar dengan postur badannya yang tinggi besar, serta bobot badan diatas rata-rata, awalnya Abon Isa ragu sampan sekecil itu mampu membawanya ke lantai dua mesjid di seberang komplek dayahnya, namun setelah diyakinkan oleh warga iapun memilih nekat naik.

“Untung air bah ini datangnya siang hari, seandainya malam, mungkin besoknya relawan yang kemari tinggal mengutip- ngutip jenazah kami saja”, sebut Iwan Arbi menggambarkan betapa dahsyat banjir saat itu.

Bagi Abon Isa dan warga lainnya, cobaan belum berhenti. Sebanyak lima balai dan rumah dewan guru di kawasan tersebut hanyut terbawa arus. Tiga bangunan lainnya masih dalam kondisi terguling, tercerabut dari pondasinya hingga beberapa puluh meter, nyaris rata dengan tanah.

Kini, yang tersisa hanyalah puing, kayu patah, dan tanah yang mengeras, menjadi saksi bisu kedahsyatan bencana.

Ironisnya, di tengah kehilangan yang begitu besar, menurut Abon Isa justru ia tidak masuk dalam daftar penerima bantuan pemerintah. Fakta itu menambah luka di tengah upaya bangkit dari keterpurukan.

Di lokasi yang terpencil, di dalam perkebunan sawit, ditengah rumah-rumah dan bilik yang  hancur, harapannya untuk bangkit belum padam. Ia dan warga lain masih berharap para relawan yang bersedia datang membantu, membersihkan puing atau membangun kembali tempat belajar dan berteduh para santri.

“Kalau ada kampus yang ingin mengirim mahasiswa untuk KPM disini itu sangat kami harapkan. Meski saya tidak tau harus mulai dari mana, yang pasti pendidikan agama anak-anak tidak boleh berhenti”, ungkap Abon Isa kepada relawan Laziskahmi dan Alumni HMI yang sore itu hadir membuka dapur umum dan iftar bersama warga penyintas di tempatnya.

Kini, di bawah langit yang kembali cerah, Abon Isa bersama warga terus berjuang pulih dan bangkit sambil bisa berharap: agar kisahnya didengar, dan harapan baru itu benar-benar datang. []

I F. Saidina

Exit mobile version