Dalam setiap perdebatan, kita sering merasa sedang memperjuangkan kebenaran. Suara meninggi, argumen disusun rapi, data dikeluarkan, dalil dikutip. Targetnya satu, dengan ego ingin menang. Namun sadarkah kita, diam-diam ada sesuatu yang jauh lebih berharga justru sering hilang saat kita berdebat, yaitu kemampuan mendengar untuk memahami dan ketulusan bertanya agar bertumbuh.
Mendengar bukan sekadar menunggu giliran berbicara. Mendengar adalah membuka ruang di dalam hati. Ruang dimana segenap atensi dan intensi tercurahkan, hingga kita mampu mendengar sesuatu yang bahkan tidak terucapkan. Ini adalah bentuk kerendahan hati paling langka.
Allah SWT mengingatkan kita: “Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf: 37)
Ayat ini memberi pesan kepada kita agar senantiasa menggunakan hati dan pendengaran secara bersamaan. Bukan hanya telinga yang bekerja, tetapi juga kesadaran. Dalam dunia coaching, mendengar yang berkesadaran disebut dengan global listening. Ini level tertinggi kemampuan seseorang dalam mendengarkan.
Sering kali, saat kita benar-benar mendengar, kita menemukan bahwa orang lain tidak sedang menyerang kita. Ia hanya membawa pengalaman, luka, dan sudut pandang yang berbeda. Di situlah empati tumbuh. Dan empati adalah jembatan yang menyelamatkan banyak hubungan dari jurang ego.
Lalu bagaimana dengan bertanya? Bertanya bukan tanda kelemahan. Justru itu adalah tanda jiwa yang hidup. Imam Syafi’i pernah berkata, “Barangsiapa yang tidak tahan terhadap pahitnya belajar, maka ia akan menelan pahitnya kebodohan.” Belajar selalu dimulai dari pertanyaan. Dari pengakuan jujur bahwa kita merasa belum mengetahui.
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” begitu pesan Al-Qur’an dalam QS. An-Nahl: 43. Ada pesan bahwa Allah SWT tidak menyuruh kita pura-pura tahu. Allah justru memerintahkan kita untuk bertanya agar benar-benar tahu.
Bayangkan jika setiap perdebatan kita awali dengan niat memahami, bukan mengalahkan. Bayangkan jika setiap perbedaan kita sikapi dengan rasa ingin belajar, bukan rasa ingin menang sendiri. Bukankah suasana akan jauh lebih teduh?
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling sering menang dalam adu argumen. Tapi siapa yang paling banyak bertumbuh dalam perjalanan memahami sesama. Karena bisa jadi, yang sedang kita perdebatkan hari ini hanyalah opini, namun mempertaruhkan kedewasaan hati.
Dan kedewasaan tidak lahir dari kerasnya suara, lengkapnya data, melainkan dari lembutnya kesediaan untuk mendengar sehingga kita benar-benar mampu memahami, dan ketulusan untuk bertanya agar kita semakin bertumbuh.
Perdebatan mustinya menjadikan kita lebih bijak, bukan lebih keras. Lebih lapang, bukan lebih sempit. Lebih erat, bukan bercerai berai. Pun begitu, menghindari perdebatan jauh lebih baik. Wallahu’aklam bis-shawab. [ ]
I Lailan F. Saidina, adalah founder Tandaseru Indonesia, Trainer, Coach dan Praktisi Islamic Hipnoterapi. I www.tandaseru.co.id
