“Jujur terhadap kebodohan dan keegoisan adalah langkah awal menuju kebijaksanaan.”
– Lailan F. Saidina –
Di tanah yang diberkahi sejarah panjang dan syariat, seperti Aceh, kebijaksanaan bukan sekadar kepintaran berbicara atau keluasan ilmu. Ia adalah cahaya yang tumbuh dari hati yang tunduk. Dan cahaya itu, sering kali, justru lahir dari keberanian mengakui: saya belum tahu, saya pernah salah, saya masih egois.
Aceh mengajarkan kita banyak hal. Dari gemuruh ombak Samudra Hindia, sie makmeugang, kanji ramadhan hingga azan yang bersahutan di setiap gampong, kita diingatkan bahwa manusia hanyalah hamba.
Ketika tsunami 2004 dan bencana hidrometeorologi 2025 meluluh lantakkan Serambi Mekkah, dunia melihat kehancuran. Namun dari reruntuhan itu, orang Aceh menunjukkan keteguhan, persaudaraan, dan kelapangan hati untuk bangkit. Mengapa? Karena dalam duka yang paling dalam, ada kejujuran kolektif: kita lemah tanpa Allah, kita rapuh tanpa saling menguatkan.
Kejujuran terhadap kebodohan adalah pintu ilmu. Dalam tradisi dayah-dayah di Aceh, seorang santri duduk bersila bertahun-tahun, bukan untuk terlihat pintar, tetapi untuk membersihkan hati dari merasa paling tahu, serta merendahkan hati untuk selalu takzim pada gurei.

Imam Syafi’i pernah mengajarkan bahwa semakin luas ilmu seseorang, semakin ia sadar betapa sedikit yang ia ketahui. Begitu pula dalam kehidupan sosial kita, di warung kupi, di meunasah, di ruang-ruang diskusi, kadang yang dibutuhkan bukan suara paling keras, tetapi hati paling rendah.
Kejujuran terhadap keegoisan adalah jalan menuju kedewasaan. Aceh pernah melewati konflik panjang. Luka itu nyata. Namun perdamaian hadir ketika ada kesediaan untuk menurunkan ego, membuka ruang dialog, dan mengutamakan masa depan bersama. Kebijaksanaan lahir saat kita lebih memilih persatuan daripada kemenangan pribadi.
Hari ini, tantangan Aceh mungkin berbeda. Arus digital, generasi muda yang berhadapan dengan identitas global, godaan popularitas, dan keinginan untuk selalu terlihat benar di media sosial.
Di sinilah quote ini menemukan relevansinya. Pejabat maupun Anak muda yang berani berkata, “Saya salah,” jauh lebih kuat daripada yang sibuk membangun citra. Pemimpin yang berani mengakui kekeliruan jauh lebih mulia daripada yang menyembunyikan kelemahan.
Spiritualitas sejati bukan tentang tampilan luar, tetapi tentang keberanian bercermin. Dalam Islam, taubat dimulai dari pengakuan. Muhasabah dimulai dari kesadaran. Dan kebijaksanaan dimulai dari kerendahan hati.
Aceh disebut Serambi Mekkah. Dalam filosofi rumoh Aceh, serambi adalah tempat singgah sebelum masuk ke ruang utama. Mungkin maknanya bukan hanya geografis, tetapi juga batiniah. Sebelum kita sampai pada kebijaksanaan, kita harus singgah di serambi kejujuran, mengakui kebodohan, menundukkan keegoisan, dan membersihkan niat (reorentasi).
Orang bijak bukanlah mereka yang tak pernah salah. Melainkan mereka yang paling jujur pada dirinya, paling rendah hatinya, dan paling sungguh mencari ridha-Nya.
InsyaAllah dari bumi rencong ini akan kembali lahir generasi yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga jernih hatinya dan kokoh prinsipnya. [ ]
I Lailan F. Saidina, adalah founder Tandaseru Indonesia, Trainer, Coach dan Praktisi Hipnoterapi.










