26.3 C
Banda Aceh
BerandaKolomSaidina Space #03: Ilmu Memberi Kekuatan, Akhlak Memberi Kemuliaan

Saidina Space #03: Ilmu Memberi Kekuatan, Akhlak Memberi Kemuliaan

“Ilmu pengetahuan memberimu kekuatan dan pengakuan, tapi akhlak memberimu kehormatan dan penerimaan.”  – Lailan F. Saidina – *

Dalam perjalanan hidup, banyak orang berlomba mengumpulkan ilmu. Kita belajar agar diakui. Kita berprestasi agar dihargai. Kita meningkatkan kompetensi agar memiliki posisi dan pengaruh.

Dan benar, ilmu memang memberi kekuatan, kekuatan berpikir, kekuatan mengambil keputusan, kekuatan memimpin. Ilmu juga menghadirkan pengakuan, gelar, jabatan, reputasi, bahkan tepuk tangan.

Namun, ada satu hal yang lebih dalam dari sekadar pengakuan: penerimaan. Dan penerimaan lahir dari akhlak. Ilmu membuat seseorang terlihat hebat.
Akhlak membuat seseorang terasa hangat.
Ilmu bisa membuat orang kagum dari jauh.
Akhlak membuat orang nyaman dari dekat.

Dalam tradisi Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Namun, Rasulullah Muhammad menegaskan bahwa misi kerasulan bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, melainkan menyempurnakan akhlak.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Disinilah keseimbangan itu menemukan maknanya. Ilmu tanpa akhlak bisa melahirkan kesombongan. Kepintaran tanpa kebeningan hati bisa berubah menjadi arogansi. Pengetahuan tanpa kebijaksanaan bisa melukai.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa ilmu sejati adalah yang mendekatkan seseorang kepada Allah dan menumbuhkan kerendahan hati, bukan memperbesar ego. Karena semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut pula lisannya, semakin luas pula maafnya, semakin dalam pula empatinya.

Akhlak adalah cerminan kualitas batin. Ia tidak selalu terlihat dalam pidato, tetapi terasa dalam sikap. Ia tidak selalu terdengar dalam argumentasi, tetapi hadir dalam kesabaran. Akhlak tidak membutuhkan panggung, karena ia hidup dalam keseharian.

Kekuatan dari ilmu bisa membuat kita di atas.
Namun kehormatan dari akhlak membuat kita selalu ada di hati.

Kita mungkin bisa dihormati karena jabatan, tetapi dicintai karena kepribadian. Kita mungkin bisa ditakuti karena kekuasaan, tetapi diterima karena kebaikan.

Maka perjalanan terbaik bukanlah memilih antara ilmu atau akhlak, melainkan menyatukan keduanya. Menjadi pribadi yang cerdas sekaligus rendah hati. Berwawasan luas sekaligus santun. Tegas dalam prinsip, lembut dalam penyampaian.

Karena pada akhirnya, dunia mungkin mengingat kepintaran kita. Tetapi manusia akan selalu mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.

Semoga ilmu kita menumbuhkan cahaya, dan akhlak kita menjadi peneduh bagi sesama. [ ]

* Lailan F. Saidina adalah Founder Tandaseru Indonesia, Trainer, Coach dan Praktisi Hipnoterapis.

Sponsor

explore more