
JALANTENGAH I KRUENG MANE – Sebanyak 20 unit sal bata (tempat cetak bata mentah) di Gampong Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, hancur dan lumpuh total pascabanjir dan longsor yang terjadi tiga bulan lalu. Bencana tersebut menghancurkan seluruh fasilitas produksi dan menyebabkan kerugian ditaksir mencapai lebih dari Rp. 1 miliar.
Pantauan di lokasi, bangunan sal bata yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas ekonomi warga kini hanya menyisakan rangka kayu dan atap rumbia yang rusak. Tanah dan material lumpur masih terlihat menumpuk di sejumlah titik, membuat aktivitas produksi mustahil dilakukan.
Dampak paling terasa dirasakan ratusan tenaga kerja setempat, terutama kaum perempuan yang selama ini menggantungkan penghasilan harian dari usaha tersebut. Sejak bencana melanda, mereka kehilangan mata pencaharian tetap dan terpaksa mencari pekerjaan serabutan demi menyambung hidup.
Keuchik Gampong Bungkah, Tgk. Muhammad, mengatakan usaha sal bata merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat di desanya. Menurutnya, lumpuhnya 20 unit sal secara bersamaan membuat perputaran ekonomi desa terhenti drastis.
“Usaha ini sumber penghasilan tetap harian warga kami. Saat ini warga kami butuh penghasilan tetap harian, sementara tempat usaha dan hartanya hancur total setelah banjir,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Ia berharap pemerintah daerah melalui Baitul Mal maupun pihak swasta dapat memberikan bantuan permodalan tanpa bunga agar para pengusaha bata bisa membangun kembali tempat produksi mereka.
“Kami sangat berharap ada perhatian serius, terutama bantuan modal usaha tanpa bunga. Kalau sembako, itu sifatnya sementara. Yang kami butuhkan adalah modal untuk bangkit kembali,” tambah Muhammad.
Salah seorang pemilik sal dan dapur bata mengaku kini terpaksa mencari kayu bakar di hutan sebagai pekerjaan alternatif untuk sekadar bisa bertahan hidup. Padahal, secara fisik ia mengaku tidak lagi kuat melakukan pekerjaan berat tersebut.
“Terpaksa masuk hutan cari kayu bakar supaya bisa makan. Padahal badan sudah tidak kuat kerja berat seperti itu, tapi mau bagaimana lagi,” ungkapnya dengan nada lirih.
Para pemilik sal bata menegaskan, jika ada dukungan modal awal untuk membangun kembali sal dan membeli peralatan produksi, mereka optimistis usaha tersebut dapat kembali beroperasi dan menyerap tenaga kerja seperti sebelumnya.
“Perkiraannya antara Rp 30 sampai 40 juta modal per sal sudah cukup untuk menghidupkan kembali sumber utama ekonomi desa kami”, terang Pak Keuchik.
Dilaporkan, selain sal batu bata, sejumlah boat warga juga hancur saat melakukan evakuasi. Begitupun sebanyak 230 unit rumah rusak total, sebagian diantaranya hilang terseret arus dan terkikis longsor. Sekitar 60 kepala keluarga masih mengungsi di tenda tenda darurat hingga saat ini dengan kondisi memprihatinkan. (*)










