JALANTENGAH I TAMIANG — Sebulan setelah bencana melanda, sisa lumpur masih menutup halaman dan bagian dalam rumah warga di Aceh Tamiang. Endapan cokelat keabu-abuan setinggi mata kaki hingga betis orang dewasa tampak mengeras di lantai rumah, bercampur puing kayu, perabot rusak, serta material bangunan yang terbawa arus.
Pantauan di lapangan, genangan air masih tersisa di berbagai sudut permukiman. Perabot rumah tangga seperti kasur, lemari, dan kursi terlihat menumpuk di luar rumah dalam kondisi kotor dan rusak. Akses jalan lingkungan dipenuhi lumpur licin, sehingga menyulitkan aktivitas warga, terutama anak-anak dan lansia.
Tokoh masyarakat Pantai Tinjau, Tgk Yunus, mengatakan bahwa warga telah berupaya membersihkan rumah masing-masing maupun fasilitas umum secara swadaya, namun keterbatasan tenaga dan peralatan membuat proses pembersihan berjalan lambat.
“Sudah sebulan, tapi lumpur masih tebal di rumah-rumah. Warga berharap ada bantuan relawan untuk pembersihan massal, karena kalau mengandalkan tenaga sendiri sangat berat,” ujar Tgk Yunus, Jum’at (26/12/2025).
Menurutnya, sebagian warga belum bisa kembali beraktivitas normal karena rumah belum layak huni. Selain lumpur yang mengeras, bau tidak sedap dan risiko penyakit masih menjadi kekhawatiran. “Kami butuh dukungan alat berat ringan, pompa air, serta relawan agar pembersihan bisa tuntas dan cepat,” kata Yunus.
Warga juga berharap perhatian berlanjut dari pemerintah daerah dan organisasi kemanusiaan, tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi hingga pemulihan. “Bantuan pembersihan sangat penting agar kami bisa kembali menata hidup,” tambahnya.
Hingga kini, sejumlah titik permukiman di Sekrak masih menunggu pembersihan menyeluruh. Warga berharap kolaborasi relawan dan pihak terkait dapat segera hadir untuk mengangkat lumpur, mengevakuasi puing, dan memulihkan lingkungan tempat tinggal mereka. (*)










