26.7 C
Banda Aceh
BerandaNewsDi Bawah Lantunan Zikir Maulid, Senyum Anak Yatim Mengundang Haru di Gampong...

Di Bawah Lantunan Zikir Maulid, Senyum Anak Yatim Mengundang Haru di Gampong Meuliek

JALANTENGAH I BIREUEN – Sesaat bakda ‘Isya, lantunan zikir menggema di Meunasah Gampong Meuliek, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, Selasa malam (13/10/2026). Ribuan warga larut dalam suasana religius, menyatukan doa dan selawat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Namun, di antara gema zikir dan tausiah yang menyejukkan hati, ada momen yang menyentuh sisi kemanusiaan setiap warga yang hadir: santunan bagi anak-anak yatim.

Diatas panggung, anak-anak itu duduk berbaris dengan tertib. Mereka benar-benar dimuliakan. Di hadapan mereka, bingkisan santunan tersusun rapi. Wajah-wajah mungil tersebut menjadi pusat perhatian di tengah keramaian warga yang hadir.

Prosesi santunan berlangsung dalam suasana penuh haru, mengingatkan semua yang hadir bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar, tetapi juga dari kepedulian dan kasih sayang yang tulus, terutama bagi anak-anak yang hidup tanpa Ayah tercinta.

Bagi Pemerintah Gampong Meuliek, peringatan Maulid bukan sekadar agenda keagamaan tahunan. Momentum ini menjadi ruang untuk merawat kebersamaan, memperkuat persaudaraan antar warga di kampung maupun yang di perantauan, sekaligus menghadirkan kepedulian nyata bagi mereka yang butuh perhatian bersama.

Rangkaian kegiatan yang digelar pada Selasa malam itu diisi dengan zikir, tausiah keagamaan, dan santunan anak yatim. Ribuan warga yang hadir mengikuti kegiatan dengan khidmat, menjadikan Meunasah Gampong Meuliek sebagai tempat berkumpulnya masyarakat dalam semangat mencintai Rasulullah SAW dan meneladani akhlaknya.

Memuliakan Anak Yatim, Menjaga Amanah

Keuchik Gampong Meuliek, Tgk. Hanafiah Ali, dalam sambutannya menegaskan bahwa menyayangi dan memuliakan anak yatim merupakan tanggung jawab bersama.

Kepedulian kepada mereka, menurutnya, tidak seharusnya berhenti pada pemberian santunan dalam acara tertentu, tetapi harus tumbuh menjadi sikap yang terus hidup di tengah masyarakat Meuliek.

“Memuliakan anak yatim bukan sekedar memberikan santunan. Lebih dari itu, kita harus menghadirkan kasih sayang, perhatian, dan kepedulian dalam kehidupan mereka sehari-hari,” kata keuchik Piah.

Ia berharap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meneladani Rasulullah SAW, terutama dalam memperlakukan anak yatim, membantu kaum dhuafa, dan menjaga hubungan baik antarsesama.

Menurut keuchik Piah, terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan peringatan Maulid merupakan bukti kekompakan warga Meuliek baik di kampung maupun di rantau, serta kerjasama pemuda dibawah komando Fadil, ketua pemuda.

Wakaf Al-Qur’an, Menanam Harapan Yatim

Kepedulian dalam peringatan Maulid malam ini di Gampong Meuliek juga hadir melalui Rumah Wakaf Qur’an Saidina Foundation. Lembaga yang didirikan Lailan Fajri Saidi tersebut turut mewakafkan mushaf Al-Qur’an kepada anak-anak yatim yang menerima santunan.

Wakaf mushaf Al-Qur’an ini menjadi bagian penting dari upaya menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci, sekaligus mendukung anak-anak dalam belajar membaca dan memahami Al-Qur’an.

“Di balik setiap mushaf yang diserahkan, tersimpan harapan agar anak-anak yatim tersebut terus memiliki kesempatan untuk belajar, memperkuat iman, dan membangun masa depan yang lebih baik sesuai nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an”, sebut Lailan.

Zikir, tausiah, pemberian santunan dan wakaf Al-Qur’an itu memperlihatkan bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui beragam cara. Ada bantuan yang membantu memenuhi kebutuhan, ada perhatian yang menguatkan hati, ada zikir yang menentramkan qalbu dan ada ilmu yang jadi bekal sepanjang hidup.

Di tengah ribuan warga yang memenuhi lokasi acara, anak-anak yatim menjadi pengingat bahwa nilai cinta kepada Rasulullah SAW perlu diterjemahkan ke dalam tindakan sehari-hari, menyayangi yang membutuhkan, menjaga mereka yang rentan, dan memastikan tidak ada anak yang merasa dilupakan oleh lingkungannya.

Dari Meunasah Gampong Meuliek, pesan itu mengalir penuh makna, bahwa memuliakan anak yatim bukan hanya tentang apa yang kita berikan malam ini, melainkan juga tentang kepedulian yang terus kita jaga esok hari dan selamanya. (*)

(LFS)

Sponsor

explore more