26.7 C
Banda Aceh
BerandaSosokAinul Mardhiah, Tetap Menyala Hingga Menjelang Senja

Ainul Mardhiah, Tetap Menyala Hingga Menjelang Senja

JALANTENGAH I BANDA ACEH – Senja boleh perlahan turun, tetapi semangat di ruang kelas D Grand Hotel Permata Hati belum menemukan alasan untuk padam. Di hadapan 31 guru asal Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Tengah peserta Training of Trainers Layanan Dukungan Psikososial, Ainul Mardhiah terus menyala dengan mikrofon di tangan.

Suaranya lantang mengisi ruang, geraknya hidup bak penari, dan sesekali tangannya terangkat, seperti hendak memastikan setiap pesan benar-benar sampai kepada mereka peserta yang duduk di hadapannya.

Pemandangan itu merekam satu fragmen dari rangkaian TOT Psikososial gelombang 2 yang diselenggarakan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) provinsi Aceh bagi guru dan tenaga pendidik di Banda Aceh, 28 September hingga 2 Oktober 2026.

Ainul Mardhiah merupakan satu diantara seratusan fasilitator nasional yang ditugaskan BGTK Aceh untuk melatih calon fasilitator daerah pada program LDP pascabencana dan kesiapsiagaan bencana. Di kelas D, Ainul hadir bukan sekedar membawa materi, namun berbagi pengalaman, inspirasi sekaligus energi yang membuat proses belajar terasa hidup.

Usia dan panjangnya perjalanan pengabdian rupanya bukan alasan untuk mengendurkan semangat berbagi. Di tengah suasana pelatihan LDP, Ainul Mardhiah, fasilitator senior dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh tampil penuh energi.

Gesturnya hidup, sesekali tangannya bergerak menegaskan pesan yang disampaikan sembari terus berinteraksi dengan setiap peserta. Sementara sorot matanya menunjukkan perhatian agar tidak ada peserta yang hadir hanya menjadi penonton.

Bagi seorang fasilitator, berdiri di depan kelas bukan sekadar menyampaikan materi. Ada energi yang harus ditularkan, ada suasana belajar yang perlu dibangun, dan ada peserta yang harus dibuat tetap terlibat. Peran itulah yang tampak dijalankan Ainul dalam kegiatan tersebut.

Di antara deretan meja pelatihan, Ainul seolah menjadi titik penggerak suasana lewat game-game yang membuat peserta “lepas”. Ketika sebagian peserta sibuk mencatat, berdiskusi, atau menyimak tayangan di layar, ia tetap hadir dengan komunikasi yang aktif dan ekspresif.

Energik hingga usia senja menjadi gambaran yang tepat untuk sosok yang memilih tetap berada di garis depan proses pembelajaran. Baginya, pengalaman dan pengabdian bukan untuk membuat langkah semakin berat, melainkan menjadi modal untuk terus berbagi.

Kehadiran Ainul juga memperlihatkan wajah lain dari seorang fasilitator pendidikan, bukan hanya penguasaan materi, tetapi kemampuan menghadirkan suasana yang membuat peserta merasa diajak berjalan, menyanyi dan menari bersama.

Di ruang pelatihan itu, Ainul tidak sekadar berbicara kepada peserta. Ia sedang menjalankan sebuah peran penting dalam ekosistem pendidikan, menyalakan semangat belajar, berbagi pengalaman, dan menjaga agar proses peningkatan mutu pendidikan terus bergerak meski ditengah situasi bencana.

Saat waktu terus berjalan menuju senja, semangat Ainul belum surut. Mikrofon masih di tangan, suara tetap lantang, pesan masih disampaikan, dan energi terus menyala. “Duu aaa” dengan sedikit cengkok dangdut yang menjadi ciri khasnya. (*)

I penulis: F. Saidina

Sponsor

explore more