JALANTENGAH I SEMARANG – Ada yang berubah dari perjalanan Kafilah Aceh di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Semarang. Setelah melewati beberapa gelaran MTQ nasional tanpa banyak menjadi sorotan dalam persaingan papan atas, Aceh kini kembali menjadi perbincangan.
Di tengah persaingan 38 kafilah provinsi, Aceh mulai memperlihatkan hasil dari pembinaan yang dilakukan. Sejumlah peserta menembus babak final, sementara salah satu cabang bahkan mencatat sejarah dengan meraih gelar juara pertama.
Data sementara yang beredar menempatkan Aceh di posisi keempat dalam daftar provinsi dengan jumlah finalis terbanyak, dengan 10 finalis. Dalam daftar tersebut, Aceh berada di bawah Kalimantan Timur, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa Aceh mulai kembali kompetitif di panggung MTQ nasional.

Momentum paling menonjol datang dari Fahmil Qur’an Putri. Tiga santriwati Aceh, Azka Dara Maulidya, Kayyisa Farras dan Izza Mushviya, berhasil membawa Aceh untuk pertama kalinya menembus final cabang tersebut. Sehari kemudian, mereka menyempurnakannya dengan meraih juara pertama setelah mengumpulkan 1.505 poin.
Bagi Aceh, prestasi itu bukan sekadar tambahan medali. Gelar tersebut menjadi catatan sejarah karena cabang Fahmil Qur’an telah diperlombakan di MTQ Nasional sejak 1981, tetapi baru pada MTQN XXXI Aceh meraih juara pertama di kategori Fahmil Qur’an Putri.
Target 10 Besar, Naik ke Papan Atas
Ketua Kafilah Aceh sekaligus Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., sebelumnya menyebut target awal Aceh pada MTQN XXXI adalah masuk 10 besar.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam unggahan T Jamal Al Hakmar yang turut menyoroti mulai diperhitungkannya Aceh dalam persaingan MTQ nasional.
Dalam unggahan itu disebutkan bahwa dukungan pemerintah Aceh, Dinas Syariat Islam Aceh dan sinergi dengan LPTQ Aceh menjadi bagian dari upaya pembinaan kafilah.
Kini, sejumlah hasil yang muncul di Semarang membuat target tersebut berkembang menjadi harapan yang lebih besar. Namun, penentuan posisi akhir tetap menunggu seluruh rangkaian perlombaan dan perhitungan resmi.
Perjalanan Aceh di Semarang juga memperlihatkan bahwa hasil tidak datang dalam satu malam. Sebanyak 56 peserta dibawa Kafilah Aceh untuk mengikuti berbagai cabang pada MTQN XXXI. Sebelum bertolak ke Semarang, para peserta telah menjalani pembinaan dan pemusatan latihan.
Satu per Satu Menembus Final
Selain Fahmil Qur’an Putri, sejumlah wakil Aceh juga berhasil melaju ke babak final pada cabang lainnya. Salah satunya Qaisal Ridha pada cabang Kaligrafi Digital Putra yang menempati posisi ketiga sementara pada babak penyisihan dengan nilai 94,25.
Fahmil Qur’an Putra juga berhasil melaju ke semifinal setelah memperoleh 1.290 poin pada babak penyisihan. Cabang tilawah anak Habibul Hamiz juga gemilang ke babak final. Rangkaian capaian tersebut membuat nama Aceh kembali muncul dalam percakapan tentang persaingan MTQ nasional.
Namun, di balik angka, peringkat dan jumlah finalis, ada proses panjang yang berlangsung jauh sebelum panggung MTQN berdiri di Semarang.
Ada peserta yang berlatih berbulan-bulan, pelatih yang mendampingi, keluarga yang mengirim doa, serta dukungan masyarakat Aceh dari jauh. Di Semarang, proses panjang itu mulai terlihat hasilnya.
Setelah lama menunggu, panggung MTQ Nasional 2026 memberi ruang bagi Serambi Mekkah untuk kembali terdengar. Bukan hanya sebagai peserta, melainkan sebagai salah satu kafilah yang mulai diperhitungkan dalam persaingan nasional. (*)