27.1 C
Banda Aceh
BerandaKampusianaMerakit Rumah, Menjaga Warisan: Cara Unik Siswa Mengenal Arsitektur Tradisional

Merakit Rumah, Menjaga Warisan: Cara Unik Siswa Mengenal Arsitektur Tradisional

JALANTENGAH I SABANG – Potongan-potongan puzzle di tangan para siswa bukan sekadar permainan. Di balik aktivitas menyusun dan merangkainya, terselip cerita tentang Rumah Aceh, arsitektur tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh.

Suasana belajar yang berbeda itu berlangsung di SDN 3 Sabang dan SDN 11 Sabang pada 16–17 September 2026. Para siswa diperkenalkan pada Rumah Aceh melalui permainan edukasi puzzle 3D yang memadukan unsur budaya, arsitektur, teknologi, dan aktivitas bermain.

Kegiatan bertajuk “Pengembangan Game Edukasi Puzzle 3D Rumah Tradisional Aceh sebagai Media Pembelajaran Budaya Anak” tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat Universitas Syiah Kuala (USK) berbasis Teknologi Tepat Guna.

Tim pengabdian melibatkan dosen dari Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik USK dan FKIP USK bersama mahasiswa. Mereka mengembangkan media pembelajaran yang memperkenalkan pengetahuan tentang arsitektur tradisional, teknologi 3D printing, serta konsep permainan edukatif kepada siswa sekolah dasar.

Ketua tim pengabdian, Pratitou Arafat, mengatakan pendekatan tersebut dirancang agar siswa tidak berhenti pada sekadar mengenal Rumah Aceh sebagai bangunan tradisional.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal Rumah Aceh sebagai sebuah bangunan, tetapi juga memahami bagaimana rumah tersebut dibangun, bagaimana ruang-ruangnya digunakan, serta mengenali bagian-bagian dan keunggulannya.” ujar Pratitou.

Melalui permainan, siswa diajak memegang, menyusun, hingga merangkai komponen puzzle 3D menjadi sebuah model Rumah Aceh.

Di sela aktivitas tersebut, mereka juga diperkenalkan pada bagian-bagian bangunan, hubungan antarelemen, fungsi ruang, serta karakteristik arsitektur Rumah Aceh.

Puzzle itu dilengkapi buklet edukasi yang memuat cerita dan pengetahuan mengenai Rumah Aceh, sekaligus panduan untuk merakit permainan.

Bagi siswa, proses belajar pun terasa lebih dekat dengan pengalaman bermain. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi berinteraksi langsung dengan model yang sedang dipelajari.

Pendekatan tersebut berangkat dari gagasan bahwa pengenalan budaya lokal perlu dilakukan sejak usia sekolah dasar. Rumah tradisional Aceh tidak hanya menyimpan nilai arsitektur, tetapi juga pengetahuan mengenai proses pembangunan, pengaturan ruang, pemanfaatan material, hingga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan.

Permainan dipilih sebagai medium untuk membuat pengetahuan tersebut lebih mudah dipahami dan meninggalkan pengalaman belajar yang berkesan bagi anak-anak.

Dari Ide hingga Model 3D

Pengembangan media dilakukan melalui beberapa tahapan. Tim terlebih dahulu mengidentifikasi elemen-elemen arsitektur Rumah Aceh, kemudian melanjutkannya dengan pemodelan digital, pengembangan desain modular, hingga produksi menggunakan teknologi 3D printing.

Proses ini juga menjadi ruang kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan arsitektur serta pendidikan secara langsung di lingkungan masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian bekerja sama dengan Illusion Architect sebagai mitra penyedia fasilitas dan dukungan teknis 3D printing. Sementara itu, DLHK3 Kota Sabang turut membantu memfasilitasi akses dan koordinasi dengan sekolah-sekolah Adiwiyata di Kota Sabang.

Pengembangan puzzle 3D ini diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah prototipe. Media tersebut diarahkan untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran budaya di sekolah-sekolah, sehingga pengenalan terhadap Rumah Aceh dapat berlangsung dengan cara yang lebih interaktif dan sesuai dengan dunia belajar anak. (*)

Sponsor

explore more