JALANTENGAH I LHOKSEUMAWE – Keprihatinan terhadap berkembangnya tren “siluweu paneuk” yang tidak sesuai nilai Islam di kalangan masyarakat Aceh mendorong dua warga Lhokseumawe asal Samalanga, Hasnawi Hasan dan Lailan F. Saidina, menggagas komunitas bernama Lhokseumawe Jubah Community (LJC).
Komunitas ini hadir sebagai ruang silaturahmi sekaligus wadah kegiatan positif bagi masyarakat, khususnya mereka yang memiliki perhatian terhadap nilai-nilai keagamaan, budaya berpakaian Islami, kepedulian sosial, dan persaudaraan.
Nama Lhokseumawe Jubah Community (LJC) dipilih untuk menggambarkan semangat kebersamaan sekaligus menjadikan jubah sebagai bagian dari identitas positif dalam kehidupan sehari-hari.

Inisiator LJC, Hasnawi Hasan, mengatakan komunitas tersebut lahir dari keinginan untuk menghadirkan lingkungan pergaulan yang lebih positif dan membangun.
“Kami ingin LJC menjadi wadah silaturahmi dan kegiatan positif. Jubah bukan sekadar tren berpakaian, tetapi bagian dari identitas dan simbol kecintaan terhadap nilai-nilai Islam. Yang paling penting adalah bagaimana komunitas ini memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Hasnawi, Senin (7/9/2026).
Menurut Hasnawi, munculnya berbagai tren di kalangan anak muda perlu diimbangi dengan kegiatan yang mampu memberikan alternatif positif. Karena itu, LJC diharapkan tidak bersifat eksklusif, melainkan terbuka untuk membangun kebersamaan dengan berbagai elemen masyarakat.
Sementara itu, Lailan F. Saidina, yang juga menjadi inisiator LJC, menegaskan bahwa melarang tren ketidakbaikan mestilah beriringan dengan menciptakan tren kebaikan baru.

“Kita tidak cukup hanya melarang hal yang tidak baik dan tidak syar’i, tapi perlu menciptakan tren baru yang lebih baik, seperti LJC ini,” tambah Lailan.
Lailan menambahkan, kehadiran LJC diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan kegiatan positif bagi masyarakat Lhokseumawe dan sekitarnya. Berbagai agenda seperti silaturahmi, kajian, kegiatan sosial serta aktivitas kemasyarakatan menjadi bagian dari arah pengembangan komunitas.
“Anak-anak muda kita harus disadarkan agar mereka tidak terjebak dalam bagian orang yang dirancang dengan dalih trend, tapi harus jadi perancang atas hidupnya sendiri. Bercelana pendek bagi orang yang sudah baligh di tempat umum itu aib malu-maluin, bukan keren”, tambah Lailan.
Kedua inisiator tersebut berharap LJC dapat berkembang menjadi komunitas yang membawa semangat “Bersama dalam Kebaikan”, sekaligus memperkuat ukhuwah dan kepedulian di tengah masyarakat. (*)













