JALANTENGAH I LHOKSEUMAWE – Politeknik Negeri Lhokseumawe melalui Unit Penunjang Akademik Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (UPA PKK) menggelar Pelatihan Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa bertema “Be Brave, Be Different” pada Rabu dan Kamis, 24 – 25 Juni 2026 di ruang training center Gedung TDC PNL.
Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai program studi tersebut bertujuan membekali mahasiswa dengan wawasan praktis dalam mengembangkan bisnis yang telah dirintis dan dijalankan mahasiswa, sekaligus meningkatkan keberanian berinovasi, di tengah persaingan yang semakin dinamis di era AI.
Acara dibuka dengan sambutan Ketua UPA PKK PNL, Dr. (C) Zulkarnaini, SE., M.Si., Ak., CA., CIFRS., ChFGM. Ia menegaskan pentingnya membangun ekosistem kewirausahaan di lingkungan kampus. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga harus mampu mencipta lapangan kerja baru.

“Tema Be Brave, Be Different sangat relevan dengan tantangan saat ini. Mahasiswa harus berani mengambil peluang, berani keluar dari zona nyaman, dan mampu menghadirkan solusi yang berbeda serta bernilai bagi masyarakat,” ujarnya.
Zulkarnaini juga menjelaskan bahwa UPA PKK, yang sebelumnya dikenal sebagai Career Development Center (CDC), terus berkomitmen mendampingi mahasiswa dalam pengembangan karier dan kewirausahaan melalui berbagai program pelatihan, mentoring, hingga inkubasi bisnis.
Sementara itu, Wakil Direktur III PNL, Ir. Syukri, ST., M.T, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap pelatihan ini mampu melahirkan wirausahawan muda yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki daya saing tinggi.
“Mahasiswa harus mampu melihat tantangan sebagai peluang. Dunia kerja terus berubah, sehingga kemampuan berwirausaha menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki generasi muda saat ini,” kata Syukri.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi dan pengalaman langsung dari praktisi bisnis, yakni Muhammad Nasir, owner PT OLG Indonesia, yang membagikan pengalaman membangun usaha dari tahap awal hingga berkembang menjadi perusahaan yang mampu bersaing di pasar.

Nasir menekankan pentingnya konsistensi, keberanian mengambil risiko yang terukur, serta relasi yang kuat, disamping kemampuan membaca kebutuhan pasar.
Pada sesi kedua, Lailan F. Saidina, Trainerpreneur dan coach yang juga pendiri PT Tandaseru Consulting Indonesia, mengangkat topik seputar entrepreneurial softskill. Lailan mengajak mahasiswa untuk membangun growth mindset dan adaptif sebagai pondasi softskill di era AI.
Menurut Lailan, keunggulan sebuah bisnis tidak hanya terletak pada produk yang di jual, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan nilai tambah yang berbeda bagi pelanggan.
Pelatihan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi, tanya jawab, serta berbagi pengalaman berwirausaha dari para narasumber. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan terkait strategi memulai usaha, pengembangan produk, hingga pemasaran berbasis digital.
Salah seorang peserta, mahasiswa Teknik Informatika PNL, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut.
“Materi yang disampaikan sangat aplikatif. Saya jadi lebih termotivasi untuk mengembangkan ide bisnis yang saya siapkan,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan peserta lainnya, yang menilai pelatihan tersebut membuka perspektif baru tentang dunia usaha. “Saya belajar bahwa keberanian memulai dan kemampuan beradaptasi merupakan kunci penting dalam berwirausaha. Pengalaman para narasumber sangat menginspirasi,” ungkapnya. (*)














