JALANTENGAH I ACEH – Di balik bantuan pendidikan yang rutin disalurkan LAZISKAHMI kepada anak-anak yatim, terdapat ikhtiar yang tak kalah penting, yakni memastikan mereka tumbuh dengan sehat secara psikologis dan tetap memiliki harapan untuk masa depan mereka.
Komitmen itulah yang terus dijalankan oleh LAZISKAHMI bersama mahasiswa Neuropsikologi Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Lindawati, dalam program pendampingan psikologis bagi anak-anak yatim alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) maupun non-alumni di Aceh, khususnya di wilayah Majlis Daerah KAHMI Aceh Utara dan Lhokseumawe.
Program yang dilaksanakan secara berkala tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pendidikan melalui Beasiswa Peluk Yatim Insan Cita, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi emosional dan perkembangan mental anak-anak yang kehilangan sosok ayah dalam usia dini maupun sejak dari kandungan.

Lindawati, mahasiswa neuropsikologi UICI yang turut terlibat sebagai relawan pendamping, mengatakan bahwa banyak anak yatim membutuhkan ruang untuk didengar dan diperhatikan. Menurutnya, kehilangan orang tua, khususnya ayah, tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga memengaruhi perkembangan psikologis anak.
“Anak-anak yatim membutuhkan figur yang mau mendengarkan cerita mereka, memberikan semangat, dan membantu mereka membangun rasa percaya diri. Pendampingan ini menjadi cara sederhana untuk memastikan mereka tetap merasa dicintai dan tidak berjalan sendirian,” ujar Linda, yang juga relawan Laziskahmi yang telah memperoleh sertifikasi kompetensi beberapa alat tes psikologi dari sejumlah lembaga pelatihan psikologi di Jakarta dan Yogyakarta.
Dalam setiap kunjungan, para relawan melakukan pendekatan yang hangat dan personal. Anak-anak diajak berdialog, berbagi pengalaman sekolah, menceritakan cita-cita mereka, hingga mengikuti aktivitas yang mendorong tumbuhnya rasa percaya diri dan optimisme.
Pendampingan tersebut juga menjadi sarana untuk memantau perkembangan sosial dan emosional anak-anak penerima manfaat. Relawan berupaya mengidentifikasi berbagai tantangan yang mereka hadapi, mulai dari rasa kehilangan, kesulitan beradaptasi, hingga kekhawatiran terhadap masa depan.
Inisiator dan pendiri LAZISKAHMI, Lailan Fajri Saidina, menjelaskan bahwa bantuan pendidikan akan lebih bermakna apabila dibarengi dengan perhatian terhadap kesehatan mental anak secara berkenjutan.
“Anak yatim tidak hanya membutuhkan biaya sekolah. Mereka juga membutuhkan kasih sayang, perhatian, motivasi, dan lingkungan yang mendukung. Karena itu, kami berupaya menghadirkan pendampingan psikologis secara rutin agar mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, dan berdaya,” katanya.
Salah satu anak dampingan atau yatim asuh LAZISKAHMI yang rutin dikunjungi adalah Sena, anak yatim penerima manfaat Beasiswa Peluk Yatim Insan Cita. Dalam sebuah sesi pendampingan, Senin (15/6/2026), bocah ananda almarhum Kanda Taufik tersebut dengan penuh keyakinan mengungkapkan cita-citanya untuk menjadi seorang ustaz.
Keinginan sederhana itu menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki mimpi yang layak diperjuangkan. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, para relawan berharap anak-anak yatim tidak hanya mampu melanjutkan pendidikan, tetapi juga tumbuh dengan keyakinan bahwa masa depan mereka tetap terbuka luas.
Program pendampingan psikologis yang dijalankan LAZISKAHMI bersama mahasiswa UICI merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kepedulian bagi anak-anak yatim alumni HMI dan keluarga dhuafa di Aceh, khususnya Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe sebagai role model bagi KAHMI di seluruh Indonesia.
Selain memberikan dukungan emosional, program ini juga memperkuat hubungan sosial antara anak-anak, keluarga pendamping, relawan, dan para dermawan atau donatur yang selama ini menjadi bagian dari gerakan kepedulian tersebut.
Bagi LAZISKAHMI, keberhasilan program bukan hanya diukur dari jumlah beasiswa yang tersalurkan, tetapi juga dari tumbuhnya senyum, harapan, dan kepercayaan diri anak-anak yatim yang didampingi.
“Kami yakin, di balik setiap anak yatim yang mampu tersenyum dan berani bermimpi, ada banyak tangan yang memilih untuk hadir, mendengar, dan membersamai mereka dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik”, tutup Lailan. (*)