Home Kolom Kata-Kata vs Nasib: Kesesatan Verbal Di Ruang Digital Masyarakat Aceh

Kata-Kata vs Nasib: Kesesatan Verbal Di Ruang Digital Masyarakat Aceh

0
Ilustrasi sesat verbal di ruang digital. (Foto: internet)

Oleh: Lailan F. Saidina *

Sorotan Stafsus Presiden beberapa waktu lalu terhadap maraknya bahasa kasar, kata-kata “jorok” dan penghinaan verbal di ruang digital masyarakat Aceh belakangan ini merupakan teguran yang seharusnya membuat kita Aceh malu atas pola komunikasi yang tidak mencerminkan adab dan Islam yang menjadi identitas kita orang Aceh.

Dinamika ruang digital masyarakat Aceh akhir-akhir ini memang cukup memprihatinkan. Identitas orang Aceh yang beradab, kental adat istiadat, rasa malu yang tinggi saat melanggar norma etika, penghormatan tinggi terhadap Ulama, termasuk taat menjaga aurat di ruang publik, seolah pantas dilucuti hanya demi algoritma dan jumlah like sosial media. Nilai sakral adat istiadat dan doktrin (doa) “aneuk meutuah” yang selalu disenandungkan setiap orangtua saat meng-inabobokan anaknya seketika tergadaikan oleh birahi viral sesaat dan tuntutan mesin algoritma.

Sorotan Stafsus Presiden terkait dinamika ruang digital Aceh ini seharusnya tidak berhenti pada perdebatan siapa yang benar dan siapa yang salah. Peristiwa ini justru membuka cermin besar tentang kondisi komunikasi masyarakat kita di ruang publik yang tidak baik-baik saja.

Padahal Aceh dikenal sebagai daerah yang menjadikan agama dan adat sebagai dua pilar kehidupan dan identitas orang Aceh. Dalam falsafah Aceh terdapat ungkapan, “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala”, yang menunjukkan bahwa tata kehidupan tidak dapat dipisahkan dari nilai moral dan spiritual. Karena itu, kemerosotan kualitas bahasa di ruang digital bukan sekadar persoalan etika komunikasi, melainkan juga persoalan peradaban yang terancam dan berbahaya.

Kesesatan Verbal: Kata Menjadi Alat Dominasi

Kesesatan verbal terjadi ketika bahasa tidak lagi digunakan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk merendahkan, mempermalukan, menyerang, atau memanipulasi pihak lain. Dalam ruang digital, gejala ini terlihat dalam bentuk penghinaan, pelabelan, fitnah, ejekan, hingga normalisasi penggunaan kata-kata kasar dan “jorok”.

Ironisnya, semakin “jorok” seseorang berbicara, semakin memalukan perilaku di sosial media, sering kali semakin banyak perhatian yang ia peroleh. Algoritma media sosial memang cenderung memberi panggung kepada kontroversi. Akibatnya, bahasa kehilangan fungsi pencerahan dan berubah menjadi instrumen pertarungan ego dan viralitas semu.

Terlepas dari siapa yang disorot, publik sebenarnya sedang menyaksikan dampak nyata dari sebuah prinsip lama, dimana kata-kata tidak pernah benar-benar hilang setelah diucapkan, meskipun setelah permintaan maaf berulang oleh pelakunya.

Hubungan Kesadaran dan Energi Bahasa

David R. Hawkins, Psikiater dan penulis spiritual melalui konsep Map of Consciousness menggambarkan bahwa emosi dan ekspresi manusia bergerak dalam spektrum kesadaran, mulai dari rasa malu, marah, dan kebencian hingga keberanian, penerimaan, cinta, dan kedamaian. Dalam modelnya, keadaan yang didominasi kemarahan, kesombongan, dan permusuhan menunjukkan seseorang berada pada tingkat kesadaran yang lebih rendah dibandingkan sikap penerimaan, empati, dan kasih sayang.

Sebagai kerangka refleksi spiritual, gagasan Hawkins ingin menawarkan pelajaran penting bagi kita, bahwa bahasa yang lahir dari kemarahan cenderung memperluas kemarahan, sedangkan bahasa yang lahir dari kesadaran dan penghormatan cenderung membangun ruang dialog yang sehat dan beradab.

Dalam konteks Aceh, fenomena penghinaan, caci maki maupun perilaku vulgar di media sosial menunjukkan bahwa banyak percakapan masih didorong oleh kebutuhan memenangkan pertarungan ego, birahi viralitas dan algoritma, bukan mencari kemaslahatan bersama.

Ucapan Membentuk Realitas

Para ulama, psikolog, dan ahli psikologi komunikasi memiliki satu titik temu pemahaman dalam hal ini, yakni bahasa mempengaruhi cara manusia berpikir dan bertindak. Saat seseorang terus-menerus menggunakan bahasa kebencian, ia sedang membangun dunia batinnya dengan kebencian. Sebaliknya, ketika seseorang membiasakan bahasa yang santun dan konstruktif, ia sedang membentuk pola pikir yang lebih jernih dan sehat bagi jiwanya.

“Karena mulut badan binasa”, begitu kata pepatah klasik melayu. Dalam tradisi Islam, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seseorang dapat terjerumus akibat ucapan yang dianggap sepele. Pesan ini menunjukkan bahwa nasib sosial, reputasi, bahkan kualitas hidup seseorang sering kali ditentukan oleh cara ia menjaga lisannya, apalagi di ruang umum.

Di era digital sekarang ini, lisan telah berubah menjadi jari-jari di atas layar. Setiap komentar, unggahan, dan status menjadi rekaman moral yang dapat bertahan jauh lebih lama daripada percakapan biasa.

Dalam ilmu tasawuf, menjaga lisan (hifzh al-lisan) merupakan salah satu latihan utama penyucian jiwa. Para sufi memahami bahwa kata-kata adalah pantulan isi hati. Jika hati dipenuhi kesombongan, iri, atau kemarahan, maka bahasa akan menjadi kasar dan “jorok”. Sebaliknya, hati yang bersih akan melahirkan tutur kata yang lembut beradab.

Imam Al-Ghazali menempatkan pengendalian lisan sebagai bagian penting dari perjalanan spiritual. Bukan karena kata-kata memiliki kekuatan magis, melainkan karena ucapan adalah indikator kondisi batin seseorang. Dari sudut pandang tasawuf, penghinaan verbal di media sosial bukan sekadar kesesatan komunikasi, tapi merupakan gejala penyakit hati yang belum terselesaikan, seperti ujub, takabur, marah, atau keinginan mendominasi orang lain.

Aceh dan Tantangan Menjaga Marwah Digital

Dari dulu masyarakat Aceh dikenal dengan modal sosial yang sangat kuat. Religiusitas, budaya musyawarah, penghormatan terhadap ulama dan pemimpin gampong (keuchik). Namun modal ini akan kehilangan makna jika tidak diterjemahkan ke dalam perilaku digital dalam kehidupan saat ini.

Kita orang Aceh tidak cukup hanya bangga dengan identitas sebagai daerah syariat, jika ruang digital dipenuhi caci maki. Tidak cukup hanya mengutip ayat dan hadis jika kolom komentar sosial media dipenuhi “teumeunak”, “ceumarot” serta penghinaan dan kata-kata yang mendegradasikan nilai-nilai kemanusiaan sesama.

Tantangan terbesar Aceh “nanggroe syariat”, ” nanggroe teuleubeh” hari ini bukan lagi sekadar membangun infrastruktur digital, tetapi membangun akhlak dan moral digital. Sebab kualitas sebuah keluarga dan masyarakat, tidak hanya terlihat dari apa yang mereka bangun secara fisik, melainkan dari cara kita berkomunikasi, baik intrapersonal ataupun interpersonal.

Sorotan staf khusus presiden dan polemik yang mengikutinya semestinya menjadi momentum introspeksi kolektif kita sebagai orang Aceh. Persoalan utamanya bukan hanya siapa yang mengucapkan kata-kata tertentu, melainkan budaya komunikasi apa yang sedang tumbuh di keluarga kita masing-masing maupun ditengah masyarakat kita Aceh saat ini.

Jika kita Aceh ingin tetap dikenal sebagai negeri beradab yang menjunjung syariat dan adat, maka ruang digitalnya juga harus mencerminkan nilai tersebut. Bahasa dan kata yang santun bukan tanda kelemahan. Justru itu merupakan manifestasi kedewasaan spiritual dan intelektual.

Sebuah peradaban tidak runtuh karena kurangnya teknologi. Peradaban runtuh ketika manusia kehilangan adab dalam berbicara, sombong dalam perilaku, angkuh dalam sikap. Setiap kebangkitan selalu dimulai dari kesadaran kecil untuk menjaga kata-kata, karena kata-kata menentukan seperti apa nasib kita. Waspadalah, dalam setiap kata-kata syurga itu tercipta, dan dalam setiap kata-kata juga neraka itu ada. Nah pilih yang mana? []

*Penulis pendiri Tandaseru Indonesia, Awareness Trainer dan Lifecoach I www.tandaseru.co.id

Exit mobile version