Home Edukasi Praktisi Dan Pemerhati Pendidikan: Kenali Tiga Ciri Sekolah Di Atas Rata-Rata

Praktisi Dan Pemerhati Pendidikan: Kenali Tiga Ciri Sekolah Di Atas Rata-Rata

0
Praktisi dan pemerhati pendidikan, Lailan F. Saidina memberikan sambutan dan testimoni mewakili orangtua siswa pada pelepasan lulusan Sukma Bangsa Lhokseumawe, Rabu 20/5/2026. (Foto: jalantengah)

JALANTENGAH I LHOKSEUMAWE – Praktisi dan Pemerhati pendidikan, Lailan F. Saidina, menyampaikan tiga ciri minimal sekolah di atas rata-rata (bermutu: red) dalam dunia pendidikan. Hal tersebut disampaikannya saat mewakili orang tua siswa pada acara Farewell Party 2026 Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Rabu (20/5/2026).

Dalam sambutan dan testimoninya, Lailan F. Saidina menegaskan bahwa kualitas sekolah tidak hanya diukur dari kemegahan bangunan atau tingginya nilai akademik, tetapi dari budaya belajar dan keteladanan yang hidup dalam lingkungan sekolah.

“Sekolah yang baik bukan hanya menghasilkan siswa pintar, tetapi juga membangun ekosistem yang membuat semua orang terus bertumbuh,” ujarnya di hadapan pimpinan yayasan, siswa, guru, dan wali murid.

Lebih lanjut menurut  Lailan, setidaknya ada tiga indikator penting sebuah lembaga pendidikan atau sekolah disebut sekolah di atas rata-rata. Pertama, Gurunya seorang pembelajar. Sekolah bermutu selalu memiliki guru yang terus belajar dan berkembang. Guru tidak boleh berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal.

“Guru yang hebat adalah guru yang tetap haus ilmu, terbuka terhadap perubahan, dan terus meningkatkan kapasitas dirinya secara sadar,” kata Lailan.

Ia menjelaskan, dunia pendidikan terus berubah seiring perkembangan teknologi, metode pembelajaran, dan karakter generasi siswa. Karena itu, guru perlu aktif membaca, mengikuti pelatihan, berdiskusi, serta mengevaluasi metode mengajarnya terus menerus.

Guru pembelajar, lanjutnya, akan melahirkan suasana kelas yang hidup dan inspiratif. Mereka tidak hanya mengajar materi, tetapi juga menanamkan semangat dan makna belajar kepada murid.

“Anak-anak akan meniru semangat gurunya. Jika gurunya senang belajar, murid pun akan tumbuh menjadi pembelajar,” tambahnya.

Kedua, kata Lailan, ciri sekolah di atas rata-rata adalah ekosistem sekolah yang sehat dan nyaman untuk belajar. Lailan menilai, lingkungan sekolah yang baik ditandai dengan hubungan yang saling menghargai dan komunikasi yang terbuka antara guru, siswa, pimpinan sekolah, dan orang tua. Selain itu, sekolah juga menjadi tempat yang aman secara emosional maupun sosial bagi anak-anak.

“Atmosfer belajar yang sehat membuat anak merasa dihargai, didengar, dan termotivasi untuk berkembang dan memiliki impian,” ujarnya.

Budaya saling mendukung jauh lebih penting dibanding budaya saling menekan. Sekolah yang sehat tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan karakter, kesehatan mental, kreativitas, dan kebahagiaan siswa.

Lanjutnya, ketika lingkungan sekolah dipenuhi semangat kolaborasi dan penghargaan, maka proses belajar akan berlangsung lebih efektif dan menyenangkan.

Terakhir, ciri ketiga, menurut Lailan, sekolah di atas rata-rata bisa dilihat dari anak guru atau anak Kepala Sekolah biasanya juga disekolahkan di sekolah tempat ia mengajar.

Poin ketiga yang disampaikan Lailan ini mendapat perhatian khusus dari para hadirin. Ia menyebut, salah satu tanda sekolah yang benar-benar dipercaya kualitasnya adalah ketika guru maupun kepala sekolah menyekolahkan anak mereka sendiri di sekolah tempat mereka mengajar.

“Kalau guru dan kepala sekolah percaya sekolah itu baik untuk anak mereka sendiri, maka itu adalah bentuk kepercayaan paling nyata terhadap kualitas sekolah,” katanya.

Hal tersebut menunjukkan adanya keyakinan terhadap mutu pembelajaran, keamanan lingkungan sekolah, serta nilai-nilai pendidikan yang diterapkan.

Lailan menilai, kepercayaan internal seperti itu menjadi indikator penting bahwa sekolah tidak hanya membangun citra baik ke luar, tetapi juga benar-benar memberikan kualitas terbaik bagi seluruh peserta didik di internal sekolah.

Acara Farewell Party 2026 ini turut dihadiri Danrem 011 Lilawangsa, Brigjen Ali Imran, Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Bangsa, Baidawi beserta unsur pimpinan lainnya. Kegiatan tersebut menjadi momentum perpisahan bagi siswa jenjang SD, SMP dan SMA, sekaligus ajang apresiasi terhadap perjalanan pendidikan mereka di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. (*)

Exit mobile version