27.8 C
Banda Aceh
BerandaUMKMDi Balik Tanah Liat, Bu Nani Menjaga Api Kehidupan

Di Balik Tanah Liat, Bu Nani Menjaga Api Kehidupan

JALANTENGAH I DEWANTARA – Di sudut jamboe sederhana di Ule Pulo Aceh Utara, di bawah atap rumbia yang mulai renta, Bu Nani (bukan nama sebenarnya: red), seorang ibu lanjut usia masih setia menekuni pekerjaan yang telah ia jalani sejak masa gadis. Tangannya yang keriput tak pernah benar-benar berhenti bergerak, mengumpal tanah liat, merapikannya dalam cetakan, lalu perlahan menjejerkan di lantai tanah bercampur pasir.

Namanya mungkin tak dikenal luas, tetapi kisah hidupnya adalah potret keteguhan yang jarang disorot. Setiap hari, sejak pagi ketika embun belum sepenuhnya hilang, ia sudah berada di dapur bata. Tanah liat yang lembap diaduk, dicampur, lalu ditekan ke dalam cetakan sederhana. Gerakannya terlatih, seolah tubuhnya telah hafal ritme pekerjaan itu. Dalam sehari, Ibu ini mampu menyelesaikan antara 800 hingga 1.000 bata mentah.

Namun, upah yang ia terima jauh dari kata layak. Ia mengaku hanya dibayar Rp.65 untuk setiap cetakan bata yang ia hasilkan. Jika dihitung, penghasilannya dalam sehari tak seberapa. Tapi bagi ibu itu, pekerjaan ini bukan sekadar soal uang. Ini adalah cara bertahan hidup, cara menjaga martabat, dan mungkin juga satu-satunya dunia yang ia kenal sejak muda.

“Saya sudah kerja ini dari masih gadis,” ujar Bu Nani pelan, tanpa menatap kamera, tetap fokus pada bata yang sedang ia bentuk.

Waktu telah menggerus banyak hal, tenaga, kesehatan, bahkan mungkin harapan. Namun, semangatnya tetap tinggal. Meski usia terus bertambah, ia tak memilih berhenti. Bukan karena tak lelah, melainkan karena hidup tak memberinya banyak pilihan.

Di sekelilingnya, bata-bata mentah berjajar rapi, menunggu kering di bawah matahari. Setiap bata menyimpan cerita tentang kerja keras, tentang hari-hari panjang, dan tentang seorang ibu yang menua bersama tanah liat yang ia bentuk.

Tak ada sorotan, tak ada tepuk tangan. Hanya suara gesekan tanah dan napas yang mulai berat. Namun dari tempat sederhana itu, ia terus  menghidupkan dapur kecilnya. Diam-diam, ibu pendiam ini menguatkan kita semua tentang arti ketekunan.

Di dunia yang bergerak cepat, kisah seperti ini sering terlewat. Padahal, di sanalah kita belajar bahwa keteguhan tidak selalu bersuara keras. Kadang, ia hadir dalam diam, di tangan seorang ibu yang tak pernah berhenti berkarya sesuai kapasitasnya. (*)

Sponsor

explore more