JALANTENGAH I ACEH UTARA — Permintaan bata merah di Kabupaten Aceh Utara mengalami lonjakan signifikan pascabanjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025. Bencana yang merendam puluhan ribu rumah dan merusak infrastruktur memicu kebutuhan tinggi terhadap material bangunan, terutama untuk perbaikan dan pembangunan kembali hunian warga.
Namun, tingginya permintaan tidak diimbangi dengan ketersediaan barang di lapangan. Sejumlah dapur bata yang biasanya berproduksi justru terpantau kosong dan tidak beroperasi. Keterbatasan kapasitas produksi di beberapa sal tidak sebanding dengan tingginya permintaan pasar saat ini.
Seorang warga, Zainal Abidin, yang tengah mencari bata merah untuk kebutuhan rumah bantuan layak huni Laziskahmi, mengaku beberapa dapur produksi bata yang ia kunjungi kosong tanpa aktivitas.

“Di beberapa lokasi sentra produksi Aceh Utara, stok bata merah sulit ditemukan. Kalaupun tersedia, harganya mengalami kenaikan tajam dibandingkan sebelum banjir. Kemarin saya beli 880 per pcs”, sebut Zainal.
Seorang pengusaha dapur bata di Gampong Ule Pulo, Kecamatan Dewantara, Nonik, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini cukup berat bagi para pelaku usaha.
“Permintaan memang tinggi sekali setelah banjir, tapi kapasitas produksi sangat terbatas. Beberapa sal juga kewalahan memenuhi permintaan. Ketersediaan bahan baku juga ikut berpengaruh setelah tergenang banjir, akibatnya dapur bata banyak yang kosong,” ujar Nonik, Senin (4/4/2026).
Di sisi lain, tingginya kebutuhan material bangunan diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, seiring upaya pemulihan pascabencana yang masih berjalan.

Kondisi ini menciptakan tekanan ganda di pasar bahan bangunan, permintaan meningkat drastis, sementara pasokan terbatas. Jika tidak segera diatasi, kelangkaan bata merah berpotensi menghambat proses rekonstruksi dan pemulihan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak. (*)












