Oleh : Lailan F. Saidina *
Dua puluh tahun silam, tepatnya saat awal saya tertarik dengan dunia pengajaran, saya pernah punya kelas yang ya, berjalan. Tidak buruk, tapi juga tidak benar-benar hidup. Saya menjelaskan, peserta mencatat. Saya bertanya, mereka menjawab singkat, aman, atau sekedar mengangguk kalau tidak menggeleng.
Setelah sadar dan merasa ada yang mengganjal nurani saya, suatu hari, saya mengubah satu hal kecil. Bukan materi, bukan metode besar. Hanya cara berkomunikasi dan bertanya.
Misalnya, alih-alih bertanya, “Siapa yang tahu jawabannya?”, saya ganti menjadi begini: “Menurutmu, kenapa hal ini bisa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari?”
Apa yang terjadi, tiba-tiba, suasana kelas berubah. Tidak langsung ramai, memang. Tapi ada jeda yang berbeda, jeda yang menciptakan ruang berpikir. Lalu satu peserta angkat tangan, diikuti yang lain. Jawaban mereka belum tentu sempurna, tapi ada sesuatu yang jauh lebih penting terjadi saat itu, yaitu mereka mulai terlibat.
Di situlah saya sadar, mungkin selama ini saya terlalu sibuk mengajar, sampai lupa untuk benar-benar hadir dan berkomunikasi dengan mereka. Komunikasi bukan sekadar bicara, tapi mengubah cara berpikir. Tujuan utama mengajar bukanlah memberi penjelasan, tapi mengetuk pintu-pintu pikiran, seperti kata Rabindranath Tagore.
Sebagai pengajar, kita sering menganggap komunikasi itu otomatis. Berbicara, menjelaskan, lalu selesai. Padahal dalam perspektif pendidikan modern, komunikasi adalah alat transformasi. Teori konstruktivisme sosial dari Vygotsky misalnya, menegaskan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial. Artinya, kualitas percakapan di kelas bukan pelengkap, tapi inti dari proses belajar mengajar.
Di dunia pendidikan, terutama sejak era kepemimpinan Prabowo, istilah deep learning mulai populer diperkenalkan di Indonesia, yang diklaim sebagai salah satu pendekatan dalam pembelajaran, khususnya di level pendidikan dasar dan menengah. Hal ini didasarkan atas riset tentang deep learning Marton dan Saljo (1976) sebagai rujukannya.
Menurut mereka, pembelajaran mendalam terjadi setidaknya ketika ada tiga kondisi berikut, yaitu saat siswa mampu mengaitkan ide satu dengan ide lainnya; mampu merefleksikan makna dari apa yang mereka pelajari; serta bisa menghubungkan materi dengan pengalaman nyata di kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, usaha implementasi pendekatan deep learning di Indonesia terkesan kaku dan lama terjebak pada tataran pemahaman konsep hingga istilah-istilah untuk sebatas dihafalkan. Misalnya konsep atau skema 4-3-3-8 lebih hidup sebagai ide konten sosial media dibandingkan sebagai ruang evaluasi untuk memastikan siswa menemukan makna terdalam hingga tersadarkan oleh setiap mata pelajaran yang ia pelajari di kelas maupun luar kelas, lalu bagaimana hasil belajar itu berdampak pada perubahan sikap diri dan lingkungannya, tempat ia bertumbuh dan bersosialisasi.
Padahal, sebagus apapun konsepnya para elit pendidikan jika gagal dikomunikasikan dan dieksekusi dengan hebat di ruang-ruang kelas tidak akan memberikan dampak apa-apa. Disinilah peran komunikasi transformatif menjadi sangat penting untuk dikuasai pengajar sebagai ujung tombak pendidikan, selain memahami konsep deep learning itu sendiri. Kalau komunikasi kita dangkal, sekadar instruksi dan adminitratif, maka pembelajaran pun akan berhenti di permukaan.
Mendengarkan vs Menunggu Jawaban
Saya ingat satu peserta yang jarang sekali bicara. Setiap saya tanya, dia hanya menunduk atau tersenyum kecil. Dulu saya berpikir, “Mungkin dia memang tidak tahu.” Suatu hari, saya coba mendekatinya dengan cara berbeda. Bukan langsung bertanya, tapi memberi atensi.
“Menurut kamu, bagian mana yang paling menarik dari materi ini?”. Dia menjawab pelan. Tidak panjang, tapi jujur. “Kenapa kamu merasa itu menarik?”. Pertanyaan sederhana itu, ternyata mampu menggerakkannya berjalan menyelami dirinya, menemukan perspektif sarat makna hingga mencengangkan seisi ruang dengan jalan pikirannya yang tak terduga.
Saya belajar satu hal penting dari situ, bahwa komunikasi transformatif tidak selalu tentang berbicara lebih banyak, tapi tentang menciptakan ruang agar mereka berani berpikir, menyadari potensi diri dan menemukan makna terdalam (spiritual) dari sekecil apapun hal yang diketahui dan pelajari, sekaligus berani menyuarakan isi pikirannya dengan cara mereka sendiri.
Dalam psikologi komunikasi maupun dunia coaching yang saya geluti, hal ini dikenal dengan istilah active listening, di mana mendengarkan secara empatik dapat meningkatkan keterlibatan dan kepercayaan diri seseorang.
Karenanya, untuk mengubah kelas sunyi ke kelas penuh makna, saya mengubah kebiasaan ini: dari menjelaskan panjang lebar menjadi memancing pertanyaan. Dari mencari jawaban benar menjadi menghargai proses berpikir, dan dari mengontrol kelas menjadi memfasilitasi dialog.
Merancang pertanyaan-pertanyaan reflektif di bagian akhir tak kalah penting. Dengan pertanyaan sederhana, misalnya: “Apa hal baru yang kamu pahami hari ini?”, “Apa yang masih membuatmu penasaran dan ingin terus belajar?”. Biasanya jawaban mereka sering kali di luar dugaan. Ada yang mengaitkan materi dengan kehidupan keluarga, ada yang menghubungkannya dengan berita yang mereka lihat, dan seterusnya.
Komunikasi Transformatif: Skill Wajib, Bukan Tambahan
Pengalaman ini membuat saya percaya bahwa spirit “speak to impact” melalui komunikasi transformatif bukan sekadar “nice to have” bagi guru, melainkan core skill, core competen, core value. Dalam 21st century skills, komunikasi menjadi salah satu kompetensi utama, berdampingan dengan critical thinking dan collaboration. Namun bagi guru, pengajar, pendidik, komunikasi bukan hanya keterampilan personal, melainkan alat untuk membuka potensi pelajar.
Apalagi dalam konteks hari ini, di mana siswa hidup di tengah arus informasi yang cepat dan kompleks, guru tidak lagi cukup menjadi sumber pengetahuan. Guru perlu menjadi fasilitator makna, fasilitator nilai melalui kemampuan komunikasi transformatif.
Hari ini, setiap kali saya masuk ruang pelatihan, saya membawa satu pertanyaan sederhana:
“Apakah komunikasi saya akan membuat peserta sekadar paham, atau benar-benar terinspirasi untuk bertumbuh?”. Saya percaya, kelas yang hidup tidak lahir dari materi yang hebat semata, tetapi dari percakapan yang bermakna, dari kata yang membelai hati, dan pertanyaan yang memberdayakan.
Perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari bongkar pasang kurikulum baru, tetapi dari kesadaran siapa kita sebagai guru, apa tendensi kita mengajar, seberapa sedia kita mendengar, di level komunikasi mana kita biasanya mengkomunikasikan materi pembelajaran, dan seberapa tulus kita hadir untuk mereka. Selamat hari pendidikan nasional. []
*) Penulis adalah guru luar sekolah, dosen luar kampus, teungku luar dayah I www.tandaseru.co.id














