“Orang yang belajarnya sedikit akan merasa tahu banyak, orang yang belajarnya banyak menyadari pengetahuannya sedikit.”
– Lailan F. Saidina –
Pernahkan Anda merasa ida ironi dalam perjalanan ilmu?. Ketika semakin dangkal seseorang menyelam, semakin ia merasa telah menemukan mutiara. Namun semakin dalam ia turun, semakin ia sadar luasnya samudra yang belum tersentuh.
Dalam kitab Al-Hikam, karya Ibnu Athaillah Al-Sakandari, ada satu ruh besar yang terus diulang, yakni: ilmu sejati melahirkan kerendahan hati. Di antara hikmah beliau, tersirat makna bahwa kebodohan terbesar bukanlah tidak tahu, tetapi merasa sudah tahu, sehingga enggan belajar dan enggan dibimbing.
Orang yang baru belajar setitik sering terjebak pada rasa cukup. Ia mudah berdebat, cepat menyalahkan, gemar menunjukkan dalil. Ilmunya belum matang, tetapi egonya sudah tumbuh. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai hijab, tabir halus yang menutup hati, bukan karena ketiadaan ilmu, melainkan karena kesombongan terhadap ilmu.
Sebaliknya, orang yang berjalan jauh dalam pencarian akan sampai pada satu kesadaran yang menenangkan sekaligus mengguncang. Betapa luasnya rahasia Allah, betapa terbatasnya akal manusia. Semakin ia membaca, semakin ia merasa kecil. Semakin ia memahami, semakin ia berhati-hati dalam berbicara.
Ibnu Athaillah mengingatkan bahwa amal dan ilmu adalah karunia, bukan prestasi pribadi. Ketika seseorang menyadari bahwa segala pemahaman adalah anugerah, maka hilanglah rasa memiliki. Yang tersisa hanyalah syukur dan tawadhu’.

Secara spiritual, fase merasa tahu adalah fase nafsu; fase merasa sedikit tahu adalah fase hati yang mulai hidup. Pada titik ini, seseorang tidak lagi sibuk membuktikan diri, tetapi sibuk memperbaiki diri. Ia tidak lagi mencari pengakuan, tetapi mencari ridha Allah.
Diantara cirinya adalah Ilmu yang belum menyentuh hati akan melahirkan keangkuhan. Ilmu yang sudah menyentuh hati akan melahirkan ketundukan. Maka, jika hari ini kita merasa sudah banyak tahu, mungkin itu tanda perjalanan baru saja dimulai. Dan jika kita mulai merasa betapa sedikit yang kita pahami, mungkin itu tanda Allah sedang membuka pintu hikmah untuk kita.
Ingat, bukan semata banyaknya yang kita ketahui (tahu tentang) yang membawa kita semakin dekat kepada-Nya, tetapi kesadaran betapa kecilnya diri kita di hadapan-Nya. Wallahu’alam bisshawab. [ ]
I Lailan F. Saidina, adalah founder Tandaseru Indonesia, Trainer, Coach dan Praktisi Hipnoterapi I www.tandaseru.co.id