
JALANTENGAH I BUNGKAH – Di bawah atap seng berkarat yang ditopang tiang kayu seadanya, asap tipis mengepul dari tungku sederhana. Di sudut gubuk darurat itu, seorang perempuan pengungsi tengah menyiapkan daging meugang, tradisi khas Aceh menyambut Ramadhan dengan wajah yang menyimpan lelah sekaligus harap.
Sudah hampir tiga bulan ia dan keluarganya bertahan di tempat pengungsian sementara di Gampong Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Rumahnya luluh lantak diterjang banjir dan longsor yang juga menghancurkan sekitar 229 rumah warga lainnya di gampong itu.
Sejak itu, gubuk beratap seng dan dinding terpal biru menjadi pengganti rumah yang dulu menaungi kehidupan mereka.
Di antara kain-kain lusuh yang digantung sebagai sekat, ia mengaduk daging meugang di atas kompor seadanya. Tradisi meugang, memasak dan menyantap daging bersama keluarga menjelang Ramadhan tetap ia upayakan, meski dalam keterbatasan.
“Biar anak-anak tetap merasakan suasana sakral bulan puasa,” tuturnya lirih, Rabu (18/2/2026).
Namun suasana hangat itu tak sepenuhnya mampu mengusir dingin yang menyelinap tiap malam. Angin kerap menembus celah terpal biru, membuat anak-anak mereka sering jatuh sakit. Batuk dan demam menjadi keluhan yang berulang. Di ruang sempit yang lembap, mereka tidur berhimpitan, berharap pagi datang lebih cepat.
“Sep jra teuh ka, tapi mandum nyo cobaan dari Allah, kamo ikhlas menerima, meski mandum harta hana sisa. Mungken bak daerah gob leubeh brat lom”, curhat si Ibu dalam bahasa Aceh sambil menyeka air mata.
Sejak bencana banjir longsor melanda pada 26 November 2025 lalu, kepastian menjadi barang mahal. Pemerintah sebelumnya menjanjikan hunian sementara (huntara) yang lebih layak sebelum Ramadan 1447 Hijriah tiba.
Kenyataannya hingga kini, hampir 3 bulan di pengungsian belum ada kejelasan kapan para penyintas akan dipindahkan. Waktu terus berjalan, sementara Ramadhan sudah tiba.
Bagi warga Gampong Bungkah, maupun puluhan ribu penyintas bencana di seluruh Aceh, meugang tahun ini bukan sekadar soal daging dan hidangan. Ia menjadi simbol keteguhan, bahwa di tengah kehilangan dan ketidakpastian, tradisi dan iman tetap dirawat.
Di balik dinding terpal dan lantai papan yang mulai lapuk, mereka menanak harapan: semoga Ramadhan membawa kabar baik, dan rumah yang layak benar-benar menjadi kenyataan, bukan sekadar dijanjikan.
Keuchik Bungkah, Muhammad, menyebutkan sebanyak 230 KK warganya kehilangan tempat tinggal akibat banjir longsor. 60 KK diantaranya masih bertahan di tenda tenda darurat pengungsian, selebihnya menumpang di rumah rumah saudara mereka, sambil menunggu rumah hunian tetap yang dijanjikan pemerintah tiba.
Selain itu, 20 sal (red: rumah produksi) bakal batu bata serta sejumlah boat yang menjadi andalan sumber ekonomi utama warga hancur, sehingga mereka kehilangan mata pencaharian penopang kehidupan keluarga. [ ]










