JALANTENGAH I ACEH UTARA – Pascabanjir yang melanda sejumlah kecamatan di Aceh Utara beberapa waktu lalu, kebun milik warga dilaporkan mengalami kerusakan parah. Tanaman perkebunan yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan utama kini mengering dan mati setelah lama terendam air.
Di sejumlah titik terdampak, terlihat pepohonan dengan daun menguning hingga kecokelatan dan ranting yang mulai meranggas. Tanaman rambutan, mangga, manggis, cokelat serta tanaman produktif lainnya tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Warga menyebut genangan air .
“Sebelumnya kebun ini jadi harapan keluarga. Sekarang banyak pohon yang mati, kami tidak tahu harus bagaimana lagi,” ujar Nyakmad, salah seorang warga terdampak di Sawang.
Banjir yang terjadi akibat curah hujan tinggi dan meluapnya aliran sungai merendam lahan pertanian dan perkebunan warga hingga setinggi tiga meter. Air yang tidak segera surut membuat akar tanaman membusuk dan mengganggu proses fotosintesis, sehingga tanaman perlahan mati.

Ketua organisasi pertanian, Geupubuet, Zulfikar Mulieng SP, M.Si menyatakan bahwa kerusakan kebun warga merupakan dampak dari lamanya genangan air yang menutup area perakaran tanaman.
“Akibat lama terendam air, banyak tanaman tidak mampu bertahan karena kekurangan oksigen di akar. Ini yang menyebabkan tanaman mengering dan akhirnya mati,” sebut Zulfikar.
Menurutnya kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga memukul ekonomi keluarga petani yang bergantung sepenuhnya pada hasil kebun. Mereka mendorong adanya pendataan kerusakan serta bantuan bibit dan pendampingan pemulihan lahan dari pemerintah pusat maupun daerah.
Sejumlah warga kini berharap ada perhatian serius untuk memulihkan kebun mereka, baik melalui bantuan langsung maupun program rehabilitasi lahan pascabanjir. Tanpa intervensi cepat, dikhawatirkan dampak ekonomi akan berkepanjangan dan memperburuk kondisi sosial masyarakat setempat. (*)