Home Edukasi Tandaseru – Laziskahmi Terminasi Program Psychosocial Support Di Aceh Utara, Azzam: “Kak,...

Tandaseru – Laziskahmi Terminasi Program Psychosocial Support Di Aceh Utara, Azzam: “Kak, Balik Lagi Ya”

0
Tim Relawan psikososial tandaseru bersama pimpinan Dayah Miftahul Falah Lang Nibong yang dipilih sebagai salah satu lokasi posko trauma healing dan aktivitas dukungan psikososial di Aceh Utara. Foto: jalantengah)


JALANTENGAH I ACEH UTARA — Program Islamic Psychosocial Support dan trauma healing yang dilaksanakan oleh Lembaga Konsultan Psikologi dan Training Tandaseru Indonesia bekerjasama Laziskahmi resmi ditutup, Ahad (25/1/2026).

Pendampingan berbasis psikososial ini telah berlangsung sejak akhir Desember 2025 di dua lokasi terpisah yang terdampak banjir besar, yakni Gampong Kuala Cangkoi, kecamatan Lapang dan Lang Nibong, Baktya Barat Aceh Utara.

Penutupan berlangsung dalam suasana penuh haru, ketika anak-anak, remaja dan orang tua sulit menyembunyikan rasa berat berpisah dengan para relawan psikososial Tandaseru yang telah membersamai mereka selama satu bulan penuh.

Suara suara lirih dan polos terdengar dari anak-anak penyintas sambil menyodorkan tangan mungil mereka untuk salaman perpisahan dengan kakak relawan. “Kak balik lagi kemari ya”, pinta Azzam, seolah tak ikhlas berpisah.

Sejak dimulai pada akhir Desember 2025 lalu, program ini menjadi ruang aman bagi anak-anak penyintas untuk kembali bermain, tertawa ceria, dan mengekspresikan perasaan mereka setelah bencana.

Relawan psikososial Tandaseru mendampingi anak-anak penyintas bencana di dayah Lang Nibong, Baktya Barat Aceh Utara dalam rangka pemulihan psikologis pascabanjir bandang yang melanda Sumatera. (Foto: jalantengah)

Orang tua pun merasakan dampak yang nyata dari program ini. Seorang ibu penyintas di Lapang mengungkapkan rasa syukurnya, “Kami sangat bahagia melihat anak-anak bisa ceria kembali setelah banjir besar. Sebelumnya mereka sering murung dan takut, sekarang sudah mau bermain dan tersenyum lagi”, ungkap si Ibu bahagia.

Para relawan tandaseru juga terlihat tidak mampu menyembunyikan rasa haru dan berat untuk berpisah. Salwa Salsabila, salah satu relawan menyebutkan, mendampingi anak-anak penyintas ini menjadi pengalaman paling berharga dan penuh kesan baginya.

“Bukan hanya hadir mendampingi, namun saya belajar banyak dari mereka tentang pentingnya rasa aman, semangat resiliensi. Saya bahagia jadi bagian dari keceriaan mereka setelah melewati masa sulit”, ungkap Salwa.

Program dengan tema “Bersama Pulih, Bersama Bangkit” ini dirancang Tandaseru Indonesia untuk mendukung pemulihan psikososial anak dan keluarga melalui pendekatan berbasis nilai-nilai Islam, permainan terstruktur, pendampingan emosi, serta penguatan peran orang tua.

Anak-anak dan remaja Lang Nibong memperlihatkan telapak tangan warna warni sebagai simbol pulihnya keceriaan dan rasa aman mereka setelah melewati masa sulit. (Foto: jalantengah)

“Selama sebulan, relawan mendampingi anak-anak secara rutin, membangun kembali rasa aman dan harapan di tengah pemulihan pascabencana”, sebut koordinator relawan, Nyak Anzila.

Di akhir acara, pelukan dan doa mengiringi perpisahan. Meski program telah ditutup, jejak kebahagiaan dan kepercayaan diri yang tumbuh pada anak-anak menjadi penanda penting bahwa pemulihan bukan sekadar membangun kembali fisik, tetapi juga hati dan jiwa.

Pendiri Tandaseru, Lailan Fajri Saidina, menegaskan komitmennya untuk terus hadir bagi penyintas bencana, membawa harapan untuk kembali bangkit bersama. (*)

Exit mobile version