25.9 C
Banda Aceh
BerandaNewsUsung Konsep Islamic Psychosocial, Tandaseru Kembali Kirim Relawan Dampingi Penyintas Bencana

Usung Konsep Islamic Psychosocial, Tandaseru Kembali Kirim Relawan Dampingi Penyintas Bencana

JALANTENGAH I LHOKSUKON – Lembaga konsultan psikologi dan training development Tandaseru Indonesia melalui Tandaseru Community kembali mengirimkan relawan untuk mendampingi penyintas bencana dengan mengusung konsep Islamic Psychosocial Support.

Kegiatan ini dilaksanakan di camp pengungsian Lapang dan Gampong Lang Nibong, Kecamatan Baktya Barat, Aceh Utara. Dukungan psikososial yang akan dilakukan Tandaseru hingga sebulan kedepan merupakan bagian dari komitmen lembaga ini dalam mendukung pemulihan mental dan emosional masyarakat terdampak bencana, khususnya pada anak-anak dan remaja.

Pendampingan dilakukan melalui berbagai aktivitas ramah anak, seperti menggambar, bermain edukatif, bercerita, dan interaksi kelompok yang dirancang untuk menciptakan rasa aman serta menumbuhkan kembali semangat dan harapan. Anak-anak diajak mengekspresikan perasaan mereka secara positif dalam suasana yang hangat dan menyenangkan.

Sejumlah anak menunjuk hasil gambar bertema tempat aman, aktivitas ini menjadi salah satu media anak membahasakan emosinya. (Foto: jalantengah)

Konsep Islamic Psychosocial merupakan pendekatan pendampingan psikososial yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam, seperti kasih sayang (rahmah), kesabaran (sabr), keikhlasan, serta penguatan spiritual. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pemulihan trauma secara psikologis, tetapi juga memberikan penguatan iman agar penyintas memiliki ketahanan mental dan spiritual dalam menghadapi kondisi pascabencana.

Founder Tandaseru, Lailan Fajri Saidina, menyampaikan bahwa pendekatan ini dipilih karena selaras dengan nilai dan budaya masyarakat setempat dan Aceh umumnya.

“Islamic psychosocial kami hadirkan sebagai bentuk pendampingan yang menyeluruh. Kami ingin penyintas, terutama anak-anak, merasa didengar, dipahami, dan dikuatkan, tidak hanya secara mental tetapi juga secara spiritual,” ujar Lailan, Sabtu (10/1/2026).

Ia menambahkan bahwa kehadiran relawan di lapangan bukan sekadar menjalankan program, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.

“Kami percaya, pemulihan pascabencana membutuhkan sentuhan kemanusiaan, empati, dan nilai keislaman agar proses bangkit kembali dapat berjalan lebih kuat dan berkelanjutan,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Tandaseru berharap dapat membantu anak-anak dan keluarga penyintas untuk kembali tersenyum, membangun rasa aman, serta menatap masa depan dengan lebih optimis. (*)

Sponsor

explore more