JALANTENGAH I TAMIANG – Di tengah kampung yang masih porak-poranda dan diselimuti lumpur banjir setebal mata kaki hingga betis, denyut kehidupan religius perlahan kembali bergetar dari sebuah tempat yang paling sunyi namun paling kuat maknanya, mesjid.
Menjelang waktu shalat magrib, pintu Masjid Pantai Tinjau, Sekerak di Aceh Tamiang kembali terbuka. Lantai halamannya belum sepenuhnya kering, bekas genangan masih membekas, begitupun dengan lumpur disekeliling mesjid.
Di sudut-sudut perkampungan, aroma lumpur bercampur air payau masih cukup terasa. Namun satu per satu, warga datang tanpa alas kaki, dengan sarung yang sebagian basah, melangkah pelan seiring suara azan magrib yang terdengar lewat pengeras suara, seolah mereka tak ingin mengusik kesunyian yang tersisa pascabencana.
Di luar, rumah-rumah masih terkulai lelah. Perabotan menumpuk di teras, pakaian dijemur seadanya, dan lumpur cokelat menjadi saksi betapa deras air pernah menguasai kampung ini. Tapi di dalam masjid, suasana berbeda. Shaf kembali dirapatkan. Bacaan imam mengalun lirih, mengikat kegelisahan menjadi doa.
Tgk Yunus, tokoh masyarakat sekaligus imam di mesjid itu mengaku sangat bahagia melihat jamaah kembali tegak, setelah warga gotong royong membersihkan lumpur yang hampir sebulan menutupi lantai mesjid.
“Mesjid ini jadi energi bagi kami untuk terus bertahan dalam ketidaknyamanan setelah banjir bandang. Meskipun air kami berwudhu’ masih serasa lumpur, Alhamdulillah kami bersyukur bisa menegakkan kembali shalat jamaah”, sebut Tgk Yunus pelan.
Salat berjamaah hari itu bukan sekadar rutinitas ibadah. Ia menjelma sebagai penanda bahwa warga Pantai Tinjau belum menyerah. Meski harta tersapu dan mata pencaharian hilang, harapan masih dijaga, dirawat bersama dalam sujud dan doa.
Seusai shalat, tak ada banyak kata. Beberapa warga saling berjabat, yang lain menggulung sajadah dan sarung, lalu kembali ke rumah untuk melanjutkan bersih-bersih. Masjid kembali menjadi pusat tempat menguatkan hati, merajut kebersamaan, dan memulai lagi langkah yang sempat terhenti.
Di Pantai Tinjau, Sekerak Aceh Tamiang, di antara lumpur dan tumpukan sampah perlengkapan rumah tangga, kehidupan pelan-pelan bangkit. Zikir dan lantunan doa kembali menggema dari corong mesjid. Dari sana, harapan itu perlahan kembali hidup. (*)
I Reportase: LFS










