JALANTENGAH I BANDA ACEH – Dua praktisi dari lembaga psikologi dan training konsultan Tandaseru Indonesia, Lailan F. Saidina dan Anna Miswar, mendapat kepercayaan menjadi Fasilitator Nasional (Fasnas) Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Pascabencana bagi Guru dan Tenaga Kependidikan.
Keduanya terpilih bersama sekitar 180 fasilitator nasional lainnya dalam program yang dipersiapkan oleh Kementeriaan Pendidikan melalui Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Aceh untuk memperkuat kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan dalam menghadapi situasi bencana, khususnya dalam memberikan dukungan psikososial setelah bencana terjadi.
Bagi Lailan dan Anna, penugasan tersebut bukan sekadar capaian profesional. Namun ada tanggung jawab yang lebih besar di baliknya, yakni membawa keterampilan yang selama ini mereka kembangkan sebagai trainer kepada lebih banyak guru dan tenaga kependidikan di berbagai wilayah.

Mereka akan menjadi bagian dari mata rantai pelatihan yang ditargetkan menjangkau lebih dari 27.000 guru dan tenaga kependidikan agar memiliki keterampilan dasar dalam memberikan layanan dukungan psikososial (LDP) pascabencana.
Angka tersebut menggambarkan besarnya pekerjaan yang menanti. Dari satu fasilitator nasional, pengetahuan akan ditularkan kepada fasilitator daerah secara estafet mulai 22 September 2026 di empat region. Dari sana kemudian diteruskan ke lingkungan sekolah hingga akhirnya memberi manfaat kepada peserta didik.
Di ruang-ruang kelas, guru sering menjadi orang dewasa terdekat yang ditemui anak ketika menghadapi situasi sulit. Ketika bencana terjadi, peran itu menjadi semakin penting. Anak-anak bukan hanya membutuhkan ruang belajar yang kembali tersedia, tetapi juga lingkungan yang membantu mereka merasa aman dan mampu kembali menjalani aktivitas pendidikan.
Pada saat yang sama, guru dan tenaga kependidikan juga dapat menjadi bagian dari masyarakat yang terdampak bencana. Karena itu, pendekatan dukungan psikososial tidak hanya berbicara tentang bagaimana membantu peserta didik, tetapi juga bagaimana warga sekolah dapat memahami respons terhadap situasi krisis dan proses pemulihan.
Lailan F. Saidina dan Anna Miswar bersama fasilitator nasional terlatih lainnya akan membawa pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan untuk ditularkan secara berjenjang kepada para pendidik dan tenaga kependidikan.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih siap menghadapi bencana. Kesiapsiagaan tidak berhenti pada kemampuan melakukan evakuasi atau mengenali risiko, tetapi juga mencakup kemampuan mendampingi warga sekolah ketika menghadapi dampak psikologis dan sosial setelah bencana.
Bagi dua praktisi lembaga Tandaseru tersebut, perjalanan sebagai Fasnas sekaligus membuka ruang untuk memperluas kerja-kerja kemanusiaan dan pendampingan psikologis yang selama ini mereka lakukan.
Targetnya bukan hanya melahirkan peserta pelatihan, melainkan membangun jaringan 27.000 lebih guru dan tenaga kependidikan yang memiliki bekal keterampilan dukungan psikososial pascabencana.
Sebab ketika bencana berakhir, sekolah tidak otomatis kembali seperti semula. Ada anak yang harus kembali berani masuk kelas, ada guru yang harus kembali mengajar setelah mengalami situasi sulit, dan ada komunitas sekolah yang harus perlahan membangun kembali rasa aman.
Di titik itulah keterampilan layanan dukungan psikososial menemukan arti sebenarnya, yaitu membantu pendidikan kembali berjalan, sekaligus memastikan manusia di dalamnya tidak berjalan sendirian melewati masa sulit dan pemulihan. (*)