JALANTENGAH I BIREUEN – Lembaga psikologi dan konsultan training Tandaseru Indonesia mengenalkan pendekatan psikologi dan metode pembelajaran kontemporer kepada sebanyak 120 guru Dayah Babussalam Al-Aziziyah dalam Workshop Peningkatan Kapasitas Guru Dayah, yang digelar pada 5–6 Agustus 2026 di Aula Utama Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, kabupaten Bireuen.
Kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas pendidik dayah agar semakin mampu memahami karakter peserta didik sekaligus merespons perkembangan psikologis santri dengan pendekatan yang lebih relevan. Salah satu materi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah psikologi santri dan metode pembelajaran kontemporer, dengan menghadirkan praktisi Tandaseru Indonesia, Lailan F. Saidina.
Melalui materi tersebut, para guru diajak melihat proses pendidikan tidak semata-mata sebagai kegiatan menyampaikan ilmu, tetapi juga sebagai proses memahami karakter, kebutuhan psikologis, emosi, motivasi, serta pola belajar santri.

Kepala asrama Babussalam Al-Aziziyah, yang juga salah satu peserta workshop PKG, Tgk. Zulkarnaeni, S.Sos menilai kehadiran Tandaseru Indonesia melalui pendirinya, Lailan F. Saidina, telah membawa perspektif baru mengenai pentingnya pendekatan psikologis dan metode pembelajaran yang adaptif dalam menghadapi generasi santri saat ini.
“Pendekatan psikologis dan metode kontemporer yang diperkenalkan diharapkan dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih komunikatif, kontekstual, dan melibatkan santri secara aktif tanpa meninggalkan tradisi keilmuan atau culture dayah salafi”, kata Tgk. Zulkarnaeni yang akrab disapa Akhi.
Kepala bidang pengembangan guru dan mahasantri, Tgk. Saifuddin, S.Pd. Gr menyebutkan program peningkatan kapasitas guru ini merupakan investasi penting dalam membangun kualitas pendidikan. “Guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga memiliki kemampuan membaca situasi kelas dan memahami bahwa setiap santri memiliki karakter serta cara belajar yang berbeda”, sebutnya.
Menurutnya, modernisasi metode pendidikan tidak harus berarti meninggalkan tradisi dayah. Sebaliknya, pendekatan-pendekatan baru dapat menjadi instrumen untuk memperkuat nilai, ilmu, dan karakter yang selama ini menjadi fondasi pendidikan dayah.
Dengan keterlibatan 120 guru yang dibagi dalam tiga kelas, kegiatan tersebut diharapkan memberikan dampak berkelanjutan bagi proses pembelajaran di Dayah Babussalam Al-Aziziyah lewat proses supervisi lanjutan. Sehingga guru mampu membawa pengetahuan yang diperoleh dari workshop ke ruang-ruang kelas dan menerapkannya sesuai kebutuhan belajar santri. (*)