Catatan Reflektif Lailan F. Saidina *
Ada perjalanan yang kita tempuh untuk menyampaikan ilmu, tetapi justru kita pulang membawa pelajaran yang jauh lebih dalam. Setidaknya hal itulah yang baru saja saya alami.
Selama dua hari, 5–6 Agustus 2026, saya mendapatkan kesempatan hadir di Dayah Babussalam Jeunieb untuk memberikan pelatihan pengembangan kapasitas bagi para guru dayah, atas undangan Tgk. Saifuddin, S.Pd, Gr, Kabid Pembinaan Guru dan Mahasantri Yayasan Babussalam Al-Aziziyah.
Pada awalnya, saya datang dengan niat berbagi pengetahuan, pengalaman, dan beberapa gagasan tentang penguatan kapasitas guru. Namun, setelah berada di tengah lingkungan dayah, berinteraksi dengan para guru, menyaksikan kehidupan para santri, dan merasakan kultur yang tumbuh di dalamnya, saya menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih berharga yang justru saya terima, yakni pelajaran tentang adab, keteladanan, kesederhanaan, dan ketulusan dalam menuntut ilmu.
Di sana, ilmu tidak berdiri sendiri, tapi berjalan beriringan bersama adab. Pengetahuan tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang diketahui, tetapi juga dari bagaimana seseorang bersikap kepada guru, kepada sesama, kepada tamu, kepada lingkungan, dan kepada ilmu itu sendiri.
Salah satu kesan yang paling membekas bagi saya adalah bagaimana nilai-nilai adab terasa hidup dan terinternalisasi dalam sikap keseharian seluruh warga dayah.
Adab tidak selalu diajarkan melalui ceramah panjang. Tidak pula dalam kalimat semboyan yang dicetak pada papan-papan nama. Di dayah ini Adab benar-benar hadir melalui kebiasaan. Melalui cara santri menghormati guru. Melalui sikap ketika berinteraksi dengan tamu dan sesama, termasuk lewat kesederhanaan dalam menjalani kehidupan, serta melalui atmosfir lingkungan dayah yang menempatkan keberkahan ilmu dan guru sebagai sesuatu yang terus dijaga.
Saya semakin memahami bahwa internalisasi adab tidak cukup dilakukan dengan mengatakan kepada anak murid “Jadilah orang yang beradab.” Adab harus dihidupkan, dicontohkan, dibiasakan, dan diwariskan melalui keteladanan dan culture dayah yang terpelihara.
Saya pun mencoba menggali bagaimana metode atau pola dayah menginternalisasi nilai-niai adab menjadi perilaku keseharian guru dan santri yang beradab. Menurut Tgk. Saifuddin, Guru menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran. Guru adalah wajah dari nilai yang diajarkannya. Apa yang dilakukan guru sering kali lebih kuat pengaruhnya daripada apa yang dikatakannya.
Karena itu, pengembangan kapasitas guru sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang kemampuan pedagogis, metode pembelajaran, administrasi, atau kompetensi profesional. Lebih dari itu, pengembangan guru juga harus menyentuh dimensi karakter, keteladanan, integritas, dan adab.
Belajar Dari Para Guru
Selama memfasilitasi proses pelatihan, saya melihat para guru bukan hanya sebagai peserta yang sedang menerima materi. Mereka adalah para pendidik yang membawa pengalaman panjang dalam mendampingi generasi santri.
Ada kerendahan hati untuk belajar. Ada kesediaan untuk berdiskusi. Ada keterbukaan untuk melihat kembali praktik yang selama ini dijalankan. Bagi saya, ini adalah sesuatu yang sangat berharga. Sebab seorang guru sejatinya tidak pernah selesai belajar.
Ketika guru bersedia untuk terus belajar, sebenarnya ia sedang memberikan pesan penting kepada santri bahwa mencari ilmu adalah perjalanan seumur hidup.
Saya juga semakin menyadari bahwa tantangan pendidikan hari ini semakin kompleks. Guru tidak cukup hanya menguasai ilmu dan metode mengajar. Guru perlu memahami perubahan zaman, perkembangan karakter generasi muda, teknologi, komunikasi, serta berbagai persoalan sosial yang dihadapi santri. Namun, di tengah perubahan cepat itu, ada sesuatu yang tidak boleh hilang, yakni adab dan nilai-nilai moral keislaman.
Teknologi boleh berubah. Metode pembelajaran boleh berkembang. Generasi boleh berganti. Tetapi fondasi akhlak dan adab harus tetap menjadi pijakan kokoh bagi semua makhluk bernama manusia.
Lingkungan Yang Mendidik
Ada hal lain yang saya rasakan selama berada di Dayah Babussalam Jeunieb, yaitu lingkungan memiliki kekuatan pendidikan yang luar biasa. Seorang santri tidak hanya belajar ketika duduk di ruang kelas. Ia belajar dari apa yang ia lihat, dengar, rasakan, dan alami setiap hari.
Lingkungan yang religius membentuk kebiasaan religius. Lingkungan yang menghargai ilmu akan menumbuhkan kecintaan kepada ilmu. Lingkungan yang menjunjung adab akan membantu melahirkan pribadi yang memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi juga tentang menjadi manusia yang baik dan beradab.
Dalam konteks pendidikan Islam, lingkungan seperti ini menjadi hidden curriculum atau kurikulum yang tidak selalu tertulis di dalam buku, tetapi terus mengajarkan nilai melalui kehidupan dan sikap sehari-hari. Dan mungkin inilah salah satu kekuatan terbesar dalam kultur dayah, dimana nilai pendidikan berlangsung hampir di setiap ruang dan waktu.
Datang Memberi Pelatihan, Pulang Membawa Pelajaran.
Dua hari tersebut memberikan sebuah kesadaran kepada saya. Saya datang dengan posisi sebagai orang yang akan berbagi. Tetapi dalam perjalanan itu, saya justru merasa menjadi orang yang banyak menerima.
Saya belajar bahwa pendidikan yang kuat bukan hanya dibangun oleh gedung yang megah atau teknologi yang canggih. Pendidikan dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki niat baik, ketekunan, keteladanan, dan kesungguhan dalam mendidik. Saya belajar bahwa adab tidak boleh menjadi sekadar slogan. Ia harus menjadi budaya yang menjelma dalam bentuk perilaku dan sikap keseharian tanpa pengawasan.
Adab harus tampak dalam cara guru memperlakukan santri, dalam cara santri menghormati guru, dalam cara warga dayah menjaga lingkungan, dan dalam cara setiap orang menempatkan ilmu sebagai jalan menuju kebaikan. Menjadi guru adalah amanah yang besar. Setiap kata, sikap, dan tindakan seorang guru dapat meninggalkan jejak panjang dalam kehidupan muridnya.
Mungkin seorang santri lupa pada materi yang pernah disampaikan gurunya. Tetapi ia bisa jadi akan mengingat selamanya bagaimana gurunya memperlakukannya, bagaimana gurunya memberi teladan, dan bagaimana gurunya mengajarkan nilai kehidupan.
Menjaga Ruh Pendidikan Ditengah Perubahan Zaman
Hari ini, pendidikan berada dalam arus perubahan yang sangat cepat. Kita berbicara tentang kecerdasan buatan, transformasi digital, kompetensi abad ke-21, kreativitas, dan berbagai inovasi pembelajaran. Semua itu penting. Tetapi semakin jauh pendidikan bergerak ke masa depan, semakin kita membutuhkan fondasi nilai yang benar-benar kuat.
Kecerdasan tanpa adab dapat kehilangan arah. Pengetahuan tanpa akhlak dapat kehilangan makna. Teknologi tanpa kebijaksanaan dapat kehilangan tujuan. Modernisasi pendidikan tidak harus berarti meninggalkan tradisi yang baik.
Kita dapat menerima kemajuan tanpa kehilangan jati diri. Kita dapat menggunakan teknologi tanpa meninggalkan adab. Kita dapat mengembangkan kompetensi guru tanpa mengurangi ketawadhuan. Dan kita dapat mempersiapkan santri menghadapi dunia modern dengan tetap menanamkan nilai-nilai keislaman yang kokoh.
Dua hari mungkin terasa singkat. Tetapi pengalaman yang baik tidak selalu ditentukan oleh panjangnya waktu. Kadang, perjumpaan yang singkat justru meninggalkan kesan yang panjang. Saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk hadir, belajar, berdialog, dan berbagi bersama keluarga besar Dayah Babussalam Jeunieb.
Semoga para guru terus diberi kekuatan untuk menjalankan amanah pendidikan. Semoga para santri tumbuh menjadi generasi yang luas ilmunya, kuat akhlaknya, lembut hatinya, teguh imannya, dan bermanfaat bagi umat.
Saya datang untuk berbagi ilmu. Tetapi Allah mempertemukan saya dengan sebuah pelajaran yang lebih dalam, yakni bahwa ilmu akan menemukan kemuliaannya ketika berjalan bersama adab. Semoga perjumpaan ini menjadi bagian kecil dari ikhtiar panjang untuk terus menyalakan cahaya ilmu, adab, dan peradaban. []
