JALANTENGAH I LHOKSEUMAWE – Di sudut kiri serambi atas rumah panggung yang lapuk dan dinding kayu penuh bolong, Fauzi Ali, yang akrab disapa Aduen Ozi duduk bersila bersama istrinya. Di tangan mereka, lembaran tipis opak “welcome snack” yang baru di produksi menyambut tim Laziskahmi sekaligus menjadi simbol keteguhan hati: sederhana, namun penuh makna perjuangan.
Dibalik senyumnya yang hangat dan pembawaan diri yang selalu ceria, Aduen Ozi adalah seorang mania bulutangkis sekaligus Instruktur militan HMI yang dikenal memiliki semangat tinggi dan gaya bicara yang selalu memotivasi. Namun, siapa nyana, bencana banjir bandang beberapa waktu lalu mengubah hidupnya.
Saat air datang tanpa peringatan, Aduen tidak sempat berpikir panjang. Ia berjuang sekuat tenaga menyelamatkan harta benda dan ternaknya. Dengan keberanian yang nyaris tanpa jeda, ia mencoba menahan laju arus yang begitu deras. Namun, tak semua bisa diselamatkan.
“Waktu itu saya cuma berpikir bagaimana menyelamatkan yang bisa diselamatkan. Tapi air terlalu kuat. Lima sapi dan enam domba saya mati dibawa arus. Padahal, hewan itu bukan hanya harta, tapi juga harapan kami selama ini”, ujar Aduen Ozi dengan suara lirih.

Kini, rumah yang dulu menjadi tempat bernaung hanya tersisa pondasi, persis disebelah rumah panggung tempat ia mengungsi saat ini. Namun, Aduen memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Bersama sang istri, ia mulai bangkit dengan memproduksi cemilan opak, halia dan kacang tojin, mengandalkan pesanan dari teman-teman mereka.
“Selama kita masih mau bergerak, InsyaAllah selalu ada jalan,” katanya dengan nada khasnya yang penuh semangat. “Saya percaya, ujian ini bukan untuk menjatuhkan, tapi menguatkan.” lanjut Aduen Ozi yang dianggukkan istrinya, Ahad (5/4/2026).
Perjuangan Aduen Ozi menarik perhatian tim Laziskahmi, Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah yang dirintis dan didirikan Lailan F. Saidina, A. Rahman Muis serta dijalankan bersama sejumlah alumni HMI lainnya. Kunjungan tim Laziskahmi ke kediaman Aduen Ozi itu bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga membawa harapan baru.
Melalui program BundaTangguh, Laziskahmi komit untuk mendampingi usaha Aduen dalam aspek stimulan modal usaha, promosi, pemasaran maupun branding agar bisa berkembang lebih jauh.
“Kami melihat potensi besar dari usaha yang dijalankan Aduen Ozi bersama istrinya. Semangat dan optimismenya luar biasa, dan ini yang ingin kita dukung,” ujar Lailan, didampingi kepala kantor Laziskahmi, Zainal.
Laziskahmi berupaya menjadikan UMKM yang tengah dirintis alumni HMI ini sebagai usaha dampingan melalui dana ZISWAF. Karenanya, Lailan berharap semakin banyak alumni HMI yang mau menunaikan Zakat, Infak dan Sadaqah melalui Laziskahmi, sehingga makin banyak penerima manfaat (mustahik) yang bisa dibantu dan diberdayakan dengan program-program di Laziskahmi.
Bagi Aduen Ozi, dukungan ini bukan hanya soal materi, tetapi juga tentang kepercayaan, kepedulian sekaligus solidaritas keluarga besar alumni HMI melalui lembaga Laziskahmi yang dikelola secara profesional, sesuai UU zakat dan prinsip syariah.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Ini bukan sekadar bantuan, tapi penyemangat untuk kami agar terus bangkit,” ungkapnya haru.
Di tengah keterbatasan, suara tawa kecil dan aroma opak sambal manisan yang renyah kembali menghidupkan suasana. Dari reruntuhan dan kehilangan, Aduen Ozi membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh selama ada tekad, kerja keras, dan tangan-tangan yang saling menguatkan. (*)