
Penulis: Zelisa Febriyani, Asmaul Husna, Nailul Authar, Mendey Mastura, Yolanda Dwi Putri Angelina *
Di era sekarang ini, TikTok sebagai platform media sosial tidak hanya digunakan untuk hiburan saja, namun juga mulai dimanfaatkan dalam bidang pendidikan. Banyak guru bahasa Inggris yang beralih dari pembelajaran tatap muka di ruang kelas ke penggunaan TikTok untuk menyampaikan pelajaran dengan cara yang menarik dan lebih mudah dimengerti oleh siswa.
Namun, kenyataannya penggunaan TikTok juga menimbulkan kekhawatiran akan citra dan profesionalisme guru. Disatu sisi TikTok membantu guru bahasa Inggris membuat konten pendidikan yang menarik, tetapi juga dapat merusak otoritas mereka, ketika mereka memprioritaskan tren hiburan seperti halnya tantangan joget velocity.
TikTok memberikan kesempatan kepada para guru bahasa Inggris untuk menyampaikan materi dengan cara yang kreatif dan menyenangkan. Melalui video pendek, mereka dapat menjelaskan tata bahasa, kosakata, atau pengucapan dengan cara yang mudah dimengerti.
Misalnya, fitur soundtrack TikTok digunakan untuk menghafal kosakata bahasa Inggris dengan lebih menyenangkan. Bahkan, beberapa guru telah berhasil menjangkau pemirsa dan pengikut yang lebih luas serta membangun komunitas belajar yang besar hingga dilevel Internasional.
Dibalik pencapaian itu, penting untuk dipahami bahwa penggunaan aplikasi TikTok sebagai sarana mengajar bukanlah semata-mata tentang efektivitas dan menyenangkan, tapi tentang nilai-nilai etis dan kepantasan. Jika mereka (guru) terlalu fokus pada konten hiburan, maka guru dapat kehilangan citra profesional mereka.
Konten seperti tantangan joget velocity yang berlebihan dapat membuat siswa dan masyarakat mempertanyakan kewibawaan, nilai etis dan harga diri seorang guru.
Ketika guru lebih mengutamakan popularitas, maka peran utama mereka sebagai pendidik menjadi terkesampingkan. Padahal kemuliaan seorang guru justru terletak pada jiwa pendidik yang didalamnya melekat nilai-nilai moral. Hal ini tentu merugikan, apalagi jika siswa mulai kehilangan rasa hormat kepada gurunya.
TikTok dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif jika digunakan dengan tepat oleh guru bahasa Inggris, termasuk guru pengampu pelajaran lainnya. Namun, batasan-batasan nilai, syariat, norma dan etika harus tetap menjadi perioritas utama sebagai cerminan profesionalisme.
Dengan pendekatan yang seimbang, guru dapat terus mendidik ditengah gempuran tehnologi tanpa kehilangan wibawa. []
*Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.
I Editor: F. Saidina